Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Aku dan Hariku

Surat Cinta dan Tanda Tanya

Hai Mer, bagaimana kabarmu? Saya yakin Allah akan menjagamu dimanapun Dirimu berada, seperti mereka menjaga semua orang-orang yang kucintai, mereka yang tidak bisakujangkau lewat raga karena terpisah oleh jarak. Sungguh senang rasanya mendapat kabar darimu, seperti kala menjumpai embun di pagi yang membasahi daun-daun. Yah, dia menjadi istimewa karena kau menuliskannya di catatan Blog sehingga korespendensi kita akan mengabadi. Entah kenapa berkomunikasi lewat tulisan selalu menjadi pilihan yang tepat, padahal sudah begitu banyak medsos, mungkin karena kesibukan, atau mungkin kita bisa mengungkapkan lebih banyak hal ketika menulis. Terlalu banyak hal-hal dan pemikiran-pemikiran yang terlintas, sehingga kita terkadang speechless. Begitukah ? Atau mungkin kita buka tipe sahabat yang suka saling mengeluhkan keadaan, kita lebih suka membagi kebahagiaan. Walaupun terkadang ia terbaca dari jarak ratusan kilometer, dan kita memutuskan untuk saling mendoakan. Mengadukannya saj...

Menemukan Kembali Ritme Hidup

Tak peduli berapa kalipun kita merasa hilang, yang terpenting adalah, lagi kita menemukan jalan untuk kembali melanjutkan langkah. Menemukan kembali ritme hidup. Seperti yang kurasakan satu tahun belakangan ini, tentang tulisanku yang begitu jarang kau jumpai selain beberapa puisi yang tercipta karena memang aku tak pernah bisa berhenti menulis. Merenungi setiap hal terjadi, sebuah ritme baru mengisi relung hidupku, sebuah peran bernama istri, sebuah babak baru yang bernama pernikahan yang sungguh begitu berbeda, juga dipenuhi kejutan demi kejutan yang indah dan harus dimaknai dengan kebahagiaan, yang setiap pahit dan manisnya, adalah rasa baru yang penuh dengan penalaman baru dan pelajaran berharga.     Jodoh, kisah hidup dan percintaan yang sesungguhnya selalu jauh melebihi segala hal yang pernah kita baca dalam novel. Perjodohanku dengan kekasihku mengantarkanku pada kehidupan yang benar-benar baru, setelah menyelesaikan s2, saya akhirnya memenuhi kewajiban untuk ...

Selimuti Hatiku

Aku ingin melupakan kekecewaan Agar benih-benih benci mati sebelum berkembang Aku ingin membunuh harga diri Yang membuatku eggan untuk merunduk Ingin kuruntuhkan jarak di antara hati kita, Agar aku bisa mengungkap segala Sejatinya aku yang harus mengerti Bahwa dirimu bukan kau yang dulu Rindu ini sebenarnya mendesak-desak Menyisakan hujan yang tak pernah reda Namun hatiku masih berupa karang Terlalu lama terombang-ambing atas kesakitan-kesakitan yang kau ciptakan Aku hampir menjadi pesakitan, Tapi pad-Nya selalu kulabuhkan harapan Aku ingin hatiku berubah menjadi kapas Agar ia dapat terbang dengan mudah ke arahmu Dan aku bisa mendekapmu seperti seharusnya Sebelum aku pergi, Aku ingin bersandar di bahumu, mengungkapkan segala gundah Membayar rindu... Tapi bagaimana bisa Sedangkan genderang perang di ujung lidahmu membuat aku selalu menjadi karang Aku mohon ajari hatiku menjadi kapas... Aku merindukan kau yang dulu , kau yang saat itu belum lupa ingatan ....

Manifestasi Kata-kata

Dear, pada akhirnya wujud dari kata adalah sebuah pembuktian Seseorang mengingatkanku, Bahwa kita adalah apa yang kita kerjakan Bukan apa yang kita katakan, saja... Tapi kata adalah pengikat mimpi Maka jangan berhenti Merekam mimpi dalam jejak kata yang menjelma doa Saat kita bertemu pada titian surga Yang akan menggetarkan Arsy, Di sore yang kita nantikan Saat Pelangi melangkah malu-malu dihantaran gerimis, menghambur dalam pelukan Langit Sore...

Kita dalam Beda

Kita, hanya bisa menambah kekayaan pemikiran saat kita bertukar milyaran kata. Kita, sejak awal, memang terlahir dari rahim pergerakan yang berbeda. Tidak ada yang bergeming, kita tetap berdiri pada pendirian masing2. Pertemuan selalu misteri... Tiba2 kita bertemu pada sebuah sore, Dan kita, akan saling mengerti bukan? Kita akan tetap menerima kebenaran masing2, dengan warna-warni beda. Kita, tidak akan menyangkal kebenaran. Karena kita berasal dari cahaya yang sama, Putih. Tapi, jika nanti kita tiba pada suatu ketika di mana semesta menjadikan pelangi menghiasi Langit Sore, seperti impian kita. Kuharap kita menemukan kebenaran yang sama, semoga tak ada ego. Karena sesungguhnya, kebenaran bukan hanya soal memuaskan logika, tapi kebenaran akan mengelus hatimu yang terdalam. Entahlah, aku yakin, sebesar keyakinanmu padaku... Satu hal yang kuyakini kau adalah Pejuang sesungguhnya, yang hatinya selembut salju. Dan mampu menghangatkan seperti langit sore... Ketika kebenaran H...

Mereka yang memanggilku "Pelangi" :D

Beberapa orang dekatku memang tau kalau saya suka pelangi, tersebab waktu kecil Ummi tidak pernah mengijinkan aku bermain hujan, akh, saya terlalu penyakitan, saat itu. Dan, sang Pelangi akhirnya mampu mewarnai hati saya dengan perasaan damai setelah terisi kelabu karena hanya bisa bisa melihat teman-teman begitu asyiknya bercengkrama dengan hujan. Maka aku memilih bersahabat dengan pelangi, berbincang-bincang lama, setiap kali ia muncul. Saya juga pernah membaca sebuah opini di koran, tentang pelangi. Waktu itu saya masih SMP, kalo tidak salah tentang, Belajar dari pelangi. Saya semakin suka, karena mengerti filosofi pelangi. Waktu SMA, seorang sahabat berkata pada saya, tak pernah saya lupa. "Tadi pagi waktu menuju ke sekolah, Aku, lihat pelangi lho, saya jadi ingat sama kamu." Saya semakin GR. Dan, saat membuat Blog, namanya pun saya tulis, Pelangi Kata, saya berharap kata-kata saya akan seindah pelangi.  Akhirnya buku pertama saya terbit, saya beri Judu...

14.05.14. 24

(Rasa Nano-nano di Usia 24) Tanggal keramat, ah tidak menurutku itu tanggal cantik. Lagi usia meranggas, satu persatu, harusnya saya bersedih, karena waktuku bersama kalian terus berkurang. Lembaran kalender terus berganti tanpa kusadari. Moment-moment tahunan datang lagi, rasanya baru kemarin. Waktu benar-benar berlari dengan cepat, dapat menggilas siapa saja jika tidak memanfaatkannya dengan baik. Akh, waktu begitu banyak ayat yang harusnya mengingatkan kita bahwa waktu begitu berharga. Sangat, tapi ternyata kadang kita terlena dan... Lupa Dua puluh tiga, adalah usiaku yang kemarin. Aku ingat, usia 23 tiga tahun ini adalah usia yang tidak mudah. Seperti permen nano-nano. Secara kasat mata, semua mungkin baik-baik saja, yah ada beberapa pencapaian memang, beberapa telah aku tulis, kalian bisa membacanya di http://charaaw.blogspot.com/2013/11/day-after-day.html   tapi menurutku semuanya karena Allah, juga karena doa-doa ibu yang tak lelah dipanjatkannya selepas shalat, ...

Apa yang bisa kuhadiahkan selain kata-kata, Dik?

Aku seorang penulis (walaupun penulis blog) maka biarlah kurangkaikan kata-kata khusus di hari ini. Mungkin kau pikir aku melupakan hari ini. Hari di mana kau lahir ke dunia. Bagaimana bisa? Sedangkan saat itu aku menanti-nanti kehadiranmu di dunia. Oh, bukan aku saja, tapi kami tepatnya, Ummi, Etta, juga Dg Asrul, saat itu tentu saja Fila belum lahir. Kau pikir aku sudah melupakan hari ini, hari yang bertepatan dengan hari bumi, 22 April. Maka syukurlah, hari ini aku punya sedikit waktu untuk merangkai kata sebagai kado untukmu. Tahukah, saat itu hari minggu, seperti biasa, aku menemani Ummi jalan-jalan, perut Ummi sudah besar, saking besarnya, Ummi tidak bisa melihat kakinya sendiri. Saat itu usia Ummi tidak muda lagi seperti saat mengandung Dg Asrul yang hanya berbeda 4 tahun dariku, saat usia Ummi masih 20 tahunan, kria-kira ummi mengandung dg Asrul usia 25 dan mengandungku saat usia 29. Saat mengandungmu diperutnya, Ummi sudah berusia 40 tahun. Usia yang cukup rentan un...