Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

TANDA JODOH

Jodoh itu suatu saat akan datang, ent a h kapan, entah siapa juga entah di mana. Tak ada yang mengetahuinya secara tepat. Tidak juga aku, kau atau pun dia. Tapi, akhir-akhir ini permbicaraan serta diskusi -diskusi kita akhirnya sampai juga pada pembahasan tentang Jodoh. Wajar, bukankah kita telah menyelesaikan stud i dengan sukses. Gelar sarjana telah tersematkan di belakang nama kita. Foto wisuda telah terpampang di ruang tam u . Bukan hanya itu, satu klipping tebal dekumentasi tulisan-tulisan yang pernah memenangi lomba serta yang pernah menghiasi media massa telah terkumpul dengan cantik , ditambah satu bundel map tebal berisikan sertifikat seminar, training, dan piagam pernghargaan . Pidala-piala . Lalu, apanya yang kurang.? Oh yah, tak ketinggalan koleksi buku yang selalu saja t ak pernah cukup . Semua telah diboyong ke kampung halaman, terpajang di ruang tamu. Menjadi kebanggan orang tua yang selalu diceritakan berulang-ulang pada setiap tamu yang ...

Serenade Hujan di Januari

  Hem... hujan turun lagi, ini sudah bulan Januari,  hujan semakin sering tertumpah dari langit. ribuan puisi tercipta, sebanyak tetes air yang jatuh ke bumi. Bukankah tetesan itu juga puisi. Setelah alam memohon, bersimpuh berdoa meminta hujan. Tapi, hujan membuat basah, semua kuyub, air menggenang di sana sini. Yah, semua basah, pohon, rumput, motor, dan mungkin juga kamu. Tapi lagi, ada irama yang dicaptakan hujan, kadang merdu kadang menakutkan, menurutku. Oia, apakah kamu melihat dua bocah yang yang memeluk hujan, mereka berjalan beriringan. Satu di antara mereka sangat usil, jahil, nakal. Ditariknya dahan pohon yang masih berada dalam jangkauannya. Byar... si bocah perempuan basah. Si jaihl lari, mereka saling mengejar. Lalu, saat saling mendapatkan, mereka lalu tertawa, lepas. Senang sekali. Aku melewati koridor kampus, ingin melihat hujan lebih dekat. Sesekali aku menadahkan tangan merasakan gerimis membasahi pori-pori t...

Cerpen Ke Empatku

Ini cerpen ke empatku di Media Massa Aku ingat sekali cerpen pertamaku di mulai dari cerpen yang termuat di Identitas, koran kampus, "The Case Of Secret" terbit Akhir Desember 2009, tapi sebenarnya cerpen ini cerpen esema dulu, dari pada nganggur kukirim saja ke koran kampus, Alhamdulillah terbit. Lalu cerpen ke Dua "Pa'Bambangan" di harian fajar, aku lupa kapan terbitnya. Cerpen yang ke tiga benar-benar surprise, cerpenku dengan judul Jeritan-jeritan yang memanggil kemudian digubah oleh redaktur menjadi "Palestina Memanggilmu" terbit di harian Nasional Republika 13 JUNI 2010, jika berbinant baca silahkan search di Blog ini, saya pernah posting. Cerpen di bawah ini adalah cerpen ke Empat, Selamat Membaca. SAMPAH KASIHAN, JALAN SAYANG (Pa’bambangang Bagian 2) Berita Terkait: » Dosa Warisan Dua orang gadis sedang bepergian ke suatu tempat, hendak membeli sesuatu. Gadis yang satu memakai jilbab hitam dengan kerudung pink yang satunya lagi memak...

Palestina Memanggilmu

Oleh Andi Asrawaty “Di negeri kami langit selalu tampak bercahaya, dari jauh sekilas cahaya itu akan tampak indah, berwarna warni menghias angkasa. Namun, siapa sangka? Ternyata cahaya itu datang meminta ribuan tumbal nyawa. Nyawa dari manusia-manusia yang jiwanya tidak pernah merasakan takut tatkala suara-suara raksasa dari rudal-rudal melebur bersama suara-suara senapan yang menebarkan ratusan peluru. Menyayatkan sembilu atas ribuan nyawa. Pembantaian atas penghianatan kemanusiaan itu datang dari sebuah negeri calon penghuni neraka abadi. Mereka datang dengan hasrat kebinatangan, bukan lagi kerasukan, tapi naluri kebinatangan itu telah menelusup, menjalar bahkan telah mendarah daging dalam diri mereka, hingga sebuah nyawa kaumnya tidak lebih berharga dari nyawa seekor nyamuk yang harus segera dimusnahkan.” “Di negeri kami, mereka datang menumpang sebagai pengungsi lalu sedikit demi sedikit menggorogoti perlahan tapi pasti mendesak kami semakin tersingkir dari jalur gaza, jalur ya...

LT 1-31-10-2009

MATI HIDUP WS Rendra telah mati dalam keabadiannya Taufik Ismail hidup selamanya dalam puisinya Pramudia Ananta Toer tak akan pernah tertelan oleh waktu Ws Rendra, Taufik ismail, Pramoedya Ananta Toer, Hamka, Habiburrahman El-Zirazi, dan Andrea Hirata semua boleh jadi akan pergi, namun karya mereka tidak akan pernah tertelan oleh masa… Apa arti hidup tanpa mati… Tanpa diikat oleh kata Tanpa dijalin oleh sebuah kalimat Tanpa ditulis oleh sebuah cerita Tanpa disampul oleh sebuah buku Maka mati adalah hidup Hidup untuk menoreh pena Tanpa menulis mati jadi kelalaian Karena menulis adalah mengukir utuk sebuah keabadian
Case of Secret Identitas Edisi Khusus Akhir TAhun Malam kian larut dan sepi, hanya terdengar suara jangkrik yang mencoba memecah kesunyian malam. Langit begitu kelabu. Awan tebal menutupi indahnya kilauan bulan dan bintang. Aku duduk di bangku panjang yang tergeletak di serambi rumah. Keadaan ini mengingatkanku pada kenangan panjang yang menghiasi hidupku selama ini. *** Hari itu seharusnya menjadi hari yang membahagiakan bagiku, dan bagi kakak tentunya, akhirnya aku berhasil diterima menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Unhas melalui program tanpa tes. Wow, amazing mengingat fakultas kedokteran merupakan plihan sejuta umat. Aku sudah tidak sabar memberitakannya kepada kakak. Orang yang paling ku cintai dan paling berjasa bagiku. Yah, sepeninggal orang tua kami dalam kecelakaan maut, aku dan ka Fiqri hidup berdua menantang kerasnya hidup. Malang memang, tapi kami tidak pernah menyerah pada nasib, kami yakin Tuhan memberi hikmah di balik setiap peristiwa, sekalipun itu menyakitkan. T...