Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Aku yang Tersesat Di Bawah Ribuan Bintang

Aku tak lagi sama Bumi berputar dengan cepat Bocah-bocah yang dulu berlarian saat dikampung Sekarang sudah menjelma menjadi Ibu dan Bapak Aku tak lagi padai menyulam kata Kata-kata indah dari sanubariku tetiba ludes Oleh dinamika kehidupan  Aku berada di bawah puisi bintang-bintang Namun, Tak tahu lagi kubaca puisi dari rasi bintang tidak kulihat lagi jalan pulang Dulu, aku dapat mendengar suara angin Berbuai, bahkan berkirim dan menitipkan pesan padanya Kini, angin hanya menghembuskan hawa panas yang ketus Aku masih di bawah bintang-bintang Berharap menemukan bintang jatuh Untuk mengabulkan permintaanku Aku ingin kembali ke masa dimana  Aku dapat membaca Kemana arah bintang yang membawaku pulang 

Seminggu Selepas Purnama

Seminggu selepas purnama, Maaf aku tak datang Seminggu selepas purnama Ada yang mencipta berbagai guratan yang menyeretku, terpaku Aku terjebak dalam labirin wajah rembulan dan menghilang Dan kita hanya bisa berjanji Tentang pertemuan, seminggu selepas purnama Karena takdir mampu menyapu dan mengubah segala Seperti awan yang tiba-tiba menutupi bulan Seminggu selepas purnama Kudengar ada adik kecil berjiwa bidadari pergi, Menuju rumah abadinya Kau boleh bersedih Aku bahkan tidak mampu mengucap satu kata pun Aku berdoa dalam diam Dan benar katamu Ia tidak mati, tapi ia sedang memulai hari kehidupan yang baru Di tempat yang berbeda Namun yakinlah, kita akan bertemu pada minggu-minggu berikutnya selepas purnama yang entah Pada suasana yang tidak bisa kita tebak Seminggu selepas purnama Aku dilema, tanpa kata, tanpa kabar Tanpa perpisahan Karena memang tidak ada perjumpaan Seminggu selepas purnama Seseorang di sana merindukanku, lebih dari biasa Palu, ...

Menabung Rindu

Kusisipkan rindu pada lipatan sajadah Juga pada jendela yang berembun karena hujan doa-doa Kuselipkan resah pada pertengahan kitab cinta-Nya Juga pada meja makan yang kesepian Kuletakkan hasrat pada sampul buku puisi Juga pada kata-kata yang menangis karena tak menemukan rumahnya Kusimpan ketakutan pada gudang kosong yang mencekam Juga pada laci meja yang terkunci Lalu suatu hari Kau menemukannya Lalu tak mampu menghitungnya Karena Rindu tergeletak di mana-mana Bahkan saat kita tak berjarak Dan rindu semakin pekat Jakarta, 18 Juli 2017

Meretas Beda

Selalu akan ada kesabaran yang bertahta di dadaku setiap kali kau menepiskan separuh isi batok kepalaku ke sudut ruangan tapi taukah kau, ada air mata yang menggenang di sana? Maaf, karena terkadang dadamu tersulut emosi atas fakta-fakta yang kulemparkan juga ketakutan-ketakutan yang membelengguku dan tentang pengertianmu akan kristal-kristal yang telah menghujam di hatiku, terimakasih Bukankah kita sedang belajar, memerangkap ego pada bulir-bulir tasbih... mengeja perbedaan dalam sujud panjang Karena aku bukan hanya aku dan kau bukan hanya kau ada kau, aku, kita dan mereka Yah, karena dalam perdebatan tersimpan kekaguman dalam keangkuhan tertambat kerinduan juga dalam kemarahan terpendam cinta Dan kita telah memutuskan akan berjalan bersama pada titian jembatan di sisi berbeda berpegangan tangan, saling menyeimbangkan takut salah satu di antara kita jatuh... Kita, meretas beda, menuju jalan yang satu pada-Nya

Kereta Rasa

Aku yakin kita akan baik-baik saja Ketika tak ada sapa yang sempat di jumpai Saat jarak mengulur pisah tak selesai Pun jika asa, tak selalu dapat sampai Aku yakin kita akan baik-baik saja Menjalani hari dengan angan yang selalu terurai Membersamai ketidakbersamaan dengan harapan Ku yakin kita kan semakin menjulang Di antara jarak yg suatu hari mungkin akan retak Kita menyusun jalan-jalan untuk mempersempit jarak yg manjelma menua dan menahun Kau membangun rumah dari sebuah profesionalisme, Aku mengabdian diri pada dedikasi sosial Kita menjual diri pada-Nya untuk membeli sebuah kebebasan hakiki Berjuang untuk sebuah cita-cita tertinggi Saat matahari menua Ketika dunia sedang kocar-kacir Dan manusia telah berubah wujud menjadi binatang-binatang Aku yakin kita masih berdiri teguh pada sebuah prinsip yang sama Maka biarlah kita berjumpa melalui titian doa Yang berhembus bersama angin Dan menyapa bagai embun pagi Juga dititip pada sayap malaikat Aku yakin kit...

Mendesak Rasa

Kau bagai malam Pekat Tak tertebak Kadang membawa damai Kadang menghadiahkan gigil Bukankah aksara telah menjelaskan segala Di helai-helai buku yang termakan rayap Tentang jalan yang seharusnya telah kau pilih Kau bagai siang Kadang memberi hidup Kadang membakar Kadang aku lelah menunggu fajar Apakah nanti kau akan sampai pada cahaya Haruskah aku mengemis cinta Lalu mengumumkan rindu pada semesta Akan hadirmu Sultan Al-Fatih Tak inginkah kau menjadi salah satu prajuritnya Ummu Sulaim Tak inginkah kau menjejaki langkahnya Yang menunggangi kuda-kuda Mengasah pedang Mengharap Mahar Keimanan Menghiasi kecantikan Allah Rasulullah Saat kau mengucap nama-Nya Ada getaran yang Dasyat Ada cinta membuncah Ikutlah ke dalam barisan Di mana nada-nada cinta Bersenandung dalam lantunan ayat Suci Mengeluarkan gelap menuju terang Bahkan senja, pelangi, bintang, matahari dan semua benda yang kau kagumi Akan tunduk padamu atas kehendak-Nya Lalu katakan apa yang ka...

Menakar Rindu

Aku. Tak pernah lagi mengusir rindu Menghirup nafas, membiarkn rindu menelusup ke dada Menikmatinya diam-diam Sambil mengigat-Nya Dan masih ada ingatan yang menjaring wajahmu Di antara desah nafas Aku tak perlu mengusir rindu Biarkan dia menjelajah Di tempat yang semestinya Sungguh tak perlu mengusirnya Bisa-bisa dia berubah ganas menjadi badai Bukankah rindu telah kau takar Agar angin yang mengingatkanmu pada-Nya Betapa indah segala cipta-Nya Biar rindu menjadi angin sepoi Yang akan menawarkan sejuk di hati Saat melihat ideologi terinjak-injak.

Januari dan Kita

Januari kembali menyapa dan dalam hitungan detik akan kembali pergi... Sepertimu, yang entah Di awal januari, aroma kematian dihantar tangisan awan yang menyesak bumi dan hati Tapi, selalu ada penawar setiap kali mengingat pertemuan kita yang juga berlatar Januari Pertemuan kata-kata yang menembus lebatnya hujan Membawa serenade magis di hati kita Lalu aku mencoba bernegosiasi dengan waktu... Ini sudah januari keberapa? Berapa januari aku harus menunggu... Atau aku terima saja tawaran di februari, maret, april atau mei? Lalu jika juni, juli, agustus, september dan oktober datang menuntut aku harus bagaimana Lalu november datang merajuk membawa mimpi indah Tidak aku sedang tidak menuntut apa-apa aku masih mengagumi daun yang tak pernah marah jika embun pergi bersama mentari, karena dia tahu, saat fajar mnyingsing, ksejukan itu akan selalu datang tepat waktu Aku sedang tidak bertanya apapun, karena jawabannya tidak terdapat di manapun, tapi di hati kita Dan kuputuskan ak...

Rindu

Rindu... Dia akan datang, kapan saja, bahkan tanpa kau minta... Ah, Rindu, menggambarkannya terlalu sulit... Sampai kusadari... Puisi adalah bahtera terbaik untuk mengalirkan rindu sampai padamu... 8.26 10 Januari 2011 Grand Clarion Hotel Makasar

Kepadamu Yang ENTAH

Meski bagaimanapun juga, tak dapat kusembunyikan bahwa... Berkali lipat aku jauh lebih menikmati sastra dibandingkan tulisan-tulisan ilmiah yang sulit ditangkap oleh hatiku Namun, harus kuakui juga... Bacaan ilmiah itu adalah sebuah bacaan wajib yang tidak bisa kutinggalkan berlama-lama agar pikiranku tidak menjadi tumpul Lalu, saat kau sematkan sentuhan sastra pada tulisan ilmiahmu Ataupun sebaliknya... Kau hadirkan sapaan ilmiah pada karya sastramu.. Maka, hati dan pikiranku bersepakat Kau berhasil dengan telak membuat keduanya luluh Bersamaan...

Puisi dan Perempuan

Ini tentang puisi-puisi, sajak-sajak, kata-kata bermakna ambigu atau apa pun namanya. Beberapa hari ini, tanpa terencana aku bertemu dengan perempuan-perempuan Hari ini mata mereka sembab, Sebelumnya kudapati mereka menceritakan dengan riang puisi-puisi yang kau kirim untuknya Sebuah puisi dengan tinta merah jambu Mengundang sejuta desiran lembut Aku tidak pernah bertanya, mengapa mata indah itu selalu basah Tapi aku juga perempuan, mata itu memberitahukan semuanya Kau tahu apa yang terjadi, mereka menceritakan puisi yang sama kepadaku Ah, perempuan Kau.... (tersenyum sinis) Aku tahu... dan akhirnya mereka juga tahu Ah, perempuan Dan mereka semua memberi maaf Heran Ini tentang puisi-puisi Jika suatu hari kau berniat mengirimkannya padaku Hanya satu yang kuminta padamu Simpan saja ia di hatimu sampai nanti puisi itu pantas untukku Kau tahu, aku belajar dari perempuan-perempuan yang kutemui Mereka menemukan ribuan puisi dihalaman rumah mereka Mereka begitu menikm...

Si Maha dan Sang Siswa

Percaya, Jika ada kaum waras di tengah negeri yang hampir semuanya gila Aku  yakin itu Mahasiswa Jika ada kelompok  yang melek Informasi di mana semuanya hampir buta huruf Saya yakin salah satunya Mahasiswa Jika ada Pemuda Idealis di tengah pragmatisme yang menggorogoti Aku pun masih yakin itu Mahasiswa Jika ada  Manusia yang benar-benar manusia di tengah Manusia Binatang Tentu saja itu Mahasiswa Jika masih ada yang empati di antara semua yang  apatis Mereka tentu saja Mahasiswa Jika ada segolongan hamba yang masih percaya dan memperjuangkan hukum Rabb-nya Pastilah Mereka Mahasiswa Kecewa Ketika mahasiswa yang ditunggu sebagai Agen Of Change hanya sibuk membebek pada Dosen Ketika mahasiswa yang dinanti sebagai Moral Force hanya menjadi badut menyenangkan senior Ketika mahaisiswa yang katanya Pemengang Estafet Kepemimpinan hanya bisa membodohi yunior Heran Ketika mahasiswa yang katanya calon pemimpin tak punya waktu untuk sikat gig...

Skenario Allah

Sungguh semua tak pernah terencana Apa yang akan terjadi esok Terlepas ingin atau tidaknya hal ini terjadi Tapi sungguh kami hanya mengikuti petunjuk waktu Mencoba mencermati kompas kehidupan Bertahan diantara semua badai yang berusaha mengoyak Berjuang dalam hantaman ombak yang meneror setiap saat Kami hanya terus bertahan Karena satu alasan cinta pada-Nya Sungguh kami tidak ingn berharap lebih Namun siapa yang akan menyangka apa yang terjadi esok Dan jika esok kau temukan layar perahu ini bercorak pelangi Setelah dihantam oleh badai, hujan serta petir yang maha dasyat Sungguh semua terlepas dari kehendak kami Allah adalah skenario segalanya dan Siapakah yang Maha berkehendak selain diri-Nya Lalu marilah kita berdamai mengarahkan orang-orang menaiki perahu ini Walaupun mungkin berbeda, Bukankah arah yang kita tuju adalah satu bukan?

Janji

Bukankah kita pernah berjanji Selembut gerimis yang hampir tak terlihat namun terasa sejuknya Bukankah kita telah berjanji Bukan dalam kata tapi dengan hati Entahlah mungkin kita pernah bertemu mungkin juga tidak Mungkin, kita pernah saling berpapasan Mungkin juga tidak, Karena kau tahu cintaku pada-Nya Aku menunggu di tempat yang paling sakral Karena ku yakin cintamu pada-Nya Aku tahu suatu hari kau akan datang pada saat yang tepat Lalu kita mengenang janji yang hanya terdengar oleh angin Karena kita tenggelam akan cinta pada-Nya… “Barang siapa yang jatuh cinta, lalu tetap menjaga kesucian dirinnya, menyembunyikan rasa cintanya dan bersabar hingga mati maka dia mati syahid.” Diriwayatkan oleh Hakim, Khatib, Ibnu Asakir, Dailami dan lainny;

Kecupan Pahit

Kau datang bersama pagi yang tak mau memancarkan kilaunya ke bumi Kau datang bersama harapan yang menguap bersama embun pagi Sebuah kecupan menerpa keningku, Disebuah warung kopi, Kau datang Pada awalnya diam yang setia Masih saja diam saat kecupan itu terasa hangat Aku terbang sesaat Namun, saat kau berbalik Kurasakan, sebuah kehangatan lain merembes di dadaku Bukan lagi hangat, tapi panas, sakit, sebuah keris bersarang di sana Tapi aku belum mau mati Kucabut lalu kujahit luka-luka itu Membangun dan merajut mimpi yang baru Untukmu.... Makassar, 16 April 2011 Setelah sebuah mimpi menguap

Rentetan Kisah

Masihkah ada semangat yang tertinggal ketika kekecewaan datang silih berganti dengan senyum Pias diwajahmu berganti mendung Lalu apa yang hendak kukatakan terbuai bersama angin Bahkan dalam hati pun tak lagi tersisa Maka masihkah kita kan bersama dalam kebersamaan yang pias Ah, semoga masih Kita melaju dalam gelombang arah tak pasti Tak juga tanpa nahkoda, tak jelas siapa. Kau atau aku, Semua baik-baik saja kan. Yah, katamu meyakinkan dengan senyuman yang selalu sama Dan dahiku berkerut cemas Pernah aku bertanya, apa sebenarnya yang mereka cari, Tak ada jawab Lalu tanya yang tak berawab menyisakan suatu rongga hampa hati Ternyata aku melihat ada titik kosong dihatimu untukku Diantara tumpukan kertas yang terjalin dalam ribuan buku Mari kita mencipta kata-kata saja Taukah kau dengan kata-kata, kapas akan berubah menjadi karang

Melukis Pelangi di Baris Hujan

Tentang Hujan yang akhir-akhir ini Tak Pernah Membawa Pelangi Untukku, Aku ingin bertanya pada hujan yang menghambur di pelukan malam Dimanakah dibawanya pelangi, Hingga sore tadi hanya kujumpai jingga sang senja. Lalu kutanya pada bulan yang terbalut awan.. Sama, dia hanya diam. Aku tak berhenti, berlari. Kutanyakan pada gerimis, Dia hanya tersenyum Lalu masih kukejar matahari, Dia menjawab dengan tegas, Tunggu Saja, Tidak, Akan Kulukis sendiri saja...

Isapan Darah

Orang-orang dengan peggalan kepala di tangan sebelah kirinya Pisau yang masih berlumuran darah di sebelah kanannya Tapi mereka berjalan tetap dengan perkasa berkeliaran terus mencari mangsa Dengan bebas Tanpa terjerat tembok Tidak ada yang bisa menghentikannya sementara orang-orang malah ikut tertawa menjilati kaki-kakinya saat dari mulutnya terlempar recehan-recehan emas emas yang terbuat dari darah yang dihisap melalui semua lubang Mereka yang terbunuh adalah mereka yang melawan suara-suara lantang peneriak pembunuh tertelan oleh hiruk-pikuk dunia malam siapa yang bisa mendengarnya? Ada yang melihatnya? banyak, tapi tak ada yang mencium amis darahnya. Indra mereka tersumbat batangan-batangan emas Tidak ada lagi Yang mendengar adalah sepersekian persen dari persen yang di persenkan mereka yang dari telinga, hidung, mulut, mata, yang mengeluarkan darah tiada henti

Biarkan Aku Menangis...

Aku ingin menangis saat ini saja Biarkan aku menangis kali ini saja Biarkan tetesan bening diantara kelopak mataku jatuh Seperti hujan yang tak kunjung berhenti hari ini Seakan turut menemaniku menangis Menangis bukan larangan kan Menangis bukan dosa kan Maka biarkan aku menangis saat ini Untuk berbagi pada air mata yang tidak akan pernah menertawaiku menangis bukan karena cengeng menangis bukan simbol kelemahan menangis bukan ungkapan kekalahan aku hanya ingin menangis menumpahkan segala tekanan mencoba merontokkan luka karena dengan menangis sebuah ketegaran datang dalam lemahku karena disaat aku menangis sebuah perlawanan tercipta dalam rapuhku karena jika aku menangis sebuah senyum akan terangkai dalam bibirku seperti hangatnya mentari yang akan menggantikan hujan seperti indahnya pelangi yang akan menemani gerimis
Mungkin kau salah satu alasan aku berada di sini Tapi tak sepenuhnya sayang, Jalanku lah yang telah membimbingku untuk berada di sini Bukan karena siapa siapa tidak juga kau ataupun aku Dia lah yang kemudian mempertemukan kita Membuat doa-doa kita berpilin Memperlihatkan tujuan kita yang satu arah Aku mau kau tahu sayang, telah lama sebenarnya aku mengadakan pencarian jalan ini lama sebelum kau mengenalku jauh sebelum kita bertemu sampai akhirnya kau mengarahkan tanganmu padaku Telah banyak hari yang telah kita lalui yah sudah sangat banyak kau tahu betapa senangnya aku karena ternyata konflik itu membuat aku mengenalmu lebih dalam Yah, selalu ada hikmah di atas segalanya jalan ini masih panjang sayang yang jelasnya kita tak akan terus tertawa lepas seperti malam ini kadang kala sesekali badai akan datang membuat kita terombang-ambing membuat kita menangis, kecewa, meratap atau ... tapi aku harap kita selalu bersyukur dengan apapun dan bagaimanapun keadaannya ...