Saat orang orang di ruang tunggu lebih asyik bersms dan menelpon ria daripada membaca Koran. Penumpang lebih memilih menghisap rokok ketimbang membaca kumpulan cerpen. Sudah sangat minim mahasiswa yang rajin membaca apalagi menulis. Begitu susah menemukan calon pegawai tamatan S1 yang mampu membuat proposal yang bagus atau rencana kerja yang baik. Benar apa kata Taufik Ismail generasi kita rabun baca, dan lumpuh menulis. Mereka juga seakan tidak peduli lagi dengan budayanya sendiri. Mereka lebih bangga dan sibuk berlomba-lomba mengikuti perkembangan budaya lain, jangan heran kalau suatu hari kita akan belajar budaya kita sendiri dari bangsa lain. Padahal bangsa yang hebat adalah bangsa yang berbudaya dan majunya suatu bangsa terletak pada majunya budaya membaca dan menulis. Apalah jadinya bangsa ini nanti? Inilah kegelisahan yang acap kali dirasakan segelintir anak muda di kampus merah atas fenomena di atas. Di tengah keterasingan media liteasi dimana membaca dan menulis bukan lagi ...
Mungkin kita berbeda, tapi yakinlah kita berasal dari sebuah cahaya yang sama, putih...