Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Coretan-coretan Lusuh

Kutukan

Hah... Sekelumit kata itu sungguh serupa kutukan Yang menembus dadaku Membuatku uring- uringan sepanjang jam Kutukan Yang tak akan pernah kulupa Aku kasihan padamu Pada moncong yang begitu mudah menyerapah lalu menyejarah Yang selalu kau asah dengan darah Lalu pada korban2 yang jatuh tak lagi pernah bangkit Akh, sungguh aku tak pernah tega Aku berdoa agar kau panjang umur Saat kau bisa melihat Kutukanmu tidak berlaku padaku Suatu hari aku akan datang lagi Melenyapkan kutukan dari titahmu

Berdamai

Bosan aku dengan perang dingin yang belum jua berakhir Rasanya seperti teriris Kala nyatanya jabatan tangan kita hari itu hanya sekedar formalitas Namun hati kita masih menyulut bara Akh, siapakah yang mampu memisahkn akar dari pohonnya kecuali dia akan melihat kita mati perlahan-lahan Oleh pisah yang bukan karenaku juga karenamu Sampai ketika kita menangis meraung-raung dalam diam akibat rindu yang disumbat dendam dan gengsi Yang meracuni diri Aku akan berlari melawan waktu meraih maaf yang sudah lama kau berikan sebenarnya Dan saat pertikaian ini terjadi, Aku menjadi paham betapa cintamu yang sangat besar terkadang membuatmu tak berpikir logis. Maka semoga Allah masih memberi waktu Dalam sebuah perdamaian yang akan membuat penduduk bumi menagis dalam haru Bahwa cinta kita tidak akan pernah terpisah lagi setelah ini Pun suatu hari saat aku pergi, dalam pelukan Imamku nantinya Kau, akan berdiri dengan cinta yang semakin berlipat, Semoga, aku masih memiliki waktu agar ma...

Kepadamu Yang ENTAH

Meski bagaimanapun juga, tak dapat kusembunyikan bahwa... Berkali lipat aku jauh lebih menikmati sastra dibandingkan tulisan-tulisan ilmiah yang sulit ditangkap oleh hatiku Namun, harus kuakui juga... Bacaan ilmiah itu adalah sebuah bacaan wajib yang tidak bisa kutinggalkan berlama-lama agar pikiranku tidak menjadi tumpul Lalu, saat kau sematkan sentuhan sastra pada tulisan ilmiahmu Ataupun sebaliknya... Kau hadirkan sapaan ilmiah pada karya sastramu.. Maka, hati dan pikiranku bersepakat Kau berhasil dengan telak membuat keduanya luluh Bersamaan...

Angel and Devil

Antara Setan dan Malaikat: Sebuah Perbincangan Malam   Yah, Si Setan dan Malaikat. Malam ini aku sadar kembali. Memang segala pikiran atau pun persepsiku terhadapmu selalu negatif, atau tidak berlebihan jika aku bilang,  kau bagaikan setan bagiku. Setiap apa pun yang kau lakukan dihadapanku selalu bermasalah. Terdapat perbedaan prinsipil yang selalu saja mengakibatkan perang dingin antara kita. Dan berkepanjangan. Aku juga sadar, bahwa berbeda denganmu. Kepada dirimu, aku selalu menganggapmu begitu baik. Selalu baik dan tidak pernah salah. Kau begitu sempurna. Perfecto, bahkan sejauh ini aku bahkan tidak menemukan celah pada dirimu. Atau tidak berlebihan jika aku berkata dirimu bagaikan malaikat yang selalu melakukan kebaikan, tidak akan pernah salah. Kau, untuk si setan aku sudah berusaha untuk memperbaiki pikran-pkiran negatifku padamu. Perang dingin rasanya lebih ganas dari perang sesungguhnya. Aku...

Mengalah Untuk Menang

Bismillah.... Ah... Akhirnya perbincangan yang berlangsung sudah sangat lama itu terbang, menembus bumi. Dan yah akh, akhirnya fakta, analisa dan solusi itu tidak hanya berkutat antara kau dan aku, mereka dan kita, kita dan mereka. Akhirnya opini-opini itu terbang, tidak hanya merambat lewat cetakan-cetakan kertas yang selama ini menjadi penyambung lidah. Kini, ia terbang mengetuk pintu demi-pintu pemikiran.  Yah, sudah terlalu lama kawan, solusi-solusi serta pemikiran ini terkurung dalam ruangan empat kali empat. Sudah lama dia terbentur oleh tembok-tembok segan, rasa tidak enak, dan terkadang terlalu berkompromi, takut ter- judge dan berbagai permasalah lain sehingga semua terbatas hanya di antara kita, dan sesekali berteriak lewat tinta. Kini, kita telah merambatkannya melalui suara. Sebuah solusi yang begitu asing, sebuah opini yang tidak biasa, sebuah fakta yang menembus pemikiran-pemikiran yang selalu sama.  Kita akhirnya maju. Mencoba mengungkapkan fakta,...

Jawaban dari Suara-Suara itu...

Apa, Kenapa, Mengapa??? Pertanyaan –pertanyaan itu selalu saya dengarkan. Sungguh dada ini bergemuruh hebat. Yah. Karena Cinta. Semua karena Cinta. Tapi jangan salah paham ini bkan cinta biasa. Bukan cinta yang diobral sana-sini. Apa… Kenapa… Mengapa ??? Kenapa hanya ngomong, kenapa hanya aksi (demonstrasi), action dong!!! Mana aksinya, ngomong doank. Yah malam ini pertanyaan itu diucapkan tepat di depanku. Untuk apa terus mengeluarkan ide tanpa henti. Kita hidup dalam kenyataan. Bukan dalam negeri mimpi. Sekali-sekali kaki kita harus menapak pada kenyatan. Semua orang tahu bahwa Amerika dan semua konsep-isme nya merupakan biang kerok. Tapi kita bisa apa. Kenyatannya sudah begitu. Pertanyaan itu mucul menyesakkan dadaku. Membuat aliran darahku mengalir, bahkan sepuluh kali lipat lebih cepat. membuat sesuatu dalam ubun-ubunku mendidih. Separuh sedih. Separuh bahagia.Separuh emosi. Tapi sebagian lagi mencoba meredam emosi. Yah emosi bertambah. Apa lagi si pen...

Maka Kita Memilih Bungkam

"Orang-orang yang akrab (saling kasih-mengasihi) pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa" (Surat Az Zuhruf ayat 67)

Just Thinking

Whats gonna be happen when i run out for the world... Just silly words...

Hilang

Apa yang hilang??? Kemarin Karena sesuatu hal, HD ku rusak, berdampak hilangnya semua data. Puluhan Puisi Belasan Essai Puluhan calon cerpen Naskah bakal Novel Ahk,, Hilang, Seperti ada rongga kosong dalam dadaku. Tapi sudahlah, tidak mesti ditangisi. Tidak semua hal mesti ditangisi. Intinya terus menulis. Masih ada ribuan kisah yang menunggu untuk dituliskan. Selesai dimenulis secepatnya di posting. Terserah, di Blog, FB, buku di mana saja. Oh ia, untung sebagian naskah masih tersimpan di buku. Catatan buku tak akan pernah mati.

Menit yang Membeku

Menit-menit membuat kita tersesat. waktu, entah dia mengulur lambat atau dia berlari cepat. Jelasnya sulit mempertemuan kita. Aku diantara kesibukanku dan dirimu dengan beribu kepentinganmu. Bukankah teknologi semakin canggih, hingga dapat menghemat pertemuan begitu singkat. Akh, teknologi membekukan kita. Juga tak mampu menjawab mengapa. Lalu jawaban yang tersedia enggan juga untuk diakui keberadaannya.

Aku Dimatamu, Begitukah?

Aku selalu serupa itu... Yah, itulah aku selalu saja berkata. Jangan begini! Jangan Begitu. Harus Ini, Harus Itu. Serupa Ibumu... Apakah aku mengingatkanmu pada ibumu? Tentu ada yang sama diantara kami, tercipta sebagai perempuan. Makhluk yang hatinya begitu perasa. Saking perasanya terkadang bahkan ibu seakan ingin memasukkan kembali anak-anaknya ke dalam rahimnya. Untuk menjaganya. Paling tidak, itu yang pernah ibuku katakan padaku, kurekam baik-baik, memcoba merenungkannya. Ibu begitukah dirimu? Bagaimana dengan ibumu? Yah, kutanyakan kembali? Apakah aku serupa ibumu? Ah, sungguh aku tidak ingin banyak suara, tapi aku tidak mampu hanya menanggapi keluh kesahmu dengan diam dan helaan nafas, lalu tersenyum sembari mengatakan, tidak apa-apa. Mungkin aku serupa itu, selalu berkata ini dan itu, seolah aku mengetahui semuanya, paham segalanya, seakan-akan hidupku berjalan sempurna... Tapi, taukah kau terkadang aku juga, kebingungan dengan janji-janjiku, tentang target-targetku, li...

Never ending end....

Everything Have Reason I do... Now, it's the best way for us... Believe It!!! See u.... Someday,, That I never know where and when,
aku ingat jarak itu, hanya dipisahkan oleh sebuah tembok. Kini jarak itu pun bertambah seiring waktu, tak pernah terdefenisikan tapi mengandung sebuah makna. Yah, kita berdua mencoba mendefenisikannya mungkin bukan lewat sebuah kata. Bukankah segala sesuatunya menarik bagaikan besi dengan medan magnetnya. Kuat. Tapi tentu saja kita mengerti jarak masing-masing, ketika kau maju maka aku akan mundur, sebaliknya jika aku menatap kau akan menunduk. Bukankah jarak mendefenisikan dirinya sendiri, sehingga kita tak usah berdefenisi. Lalu, aku dan kau yakin masih saling menjaga kesetiaan diantara jarak-jarak yang tak terdefenisi. Bukan kau setia untuk diriku atau aku yang setia untuk dirimu, bukan untuk siapa-siapa untuk kesetiaan kita sendiri, bukankah kita sudah tahu bila tak perlu ada defenisi. Jika kau dan aku mencoba mendefenisikannya maka jarak akan berubah menjadi batas tak berujung. Setiakah kau? tak pernah ada tanya, hanya ada tatapan mata bening yang terlihat di angkasa bahwa kau mas...

Endeavor...

Aku ingin.... menatap penuh persahabatan tersenyum dengan sepenuh hati Melakukannya dengan ketulusan Mengajak tanpa memaksa Mengucapkan tanpa menyinggung Mencontohkan tanpa menggurui Membenarkan tanpa menghakimi Mengoreksi tanpa menghukumi Menjelaskan dengan nalar, faktual, logis dan tentunya dengan hati...

Jejak kata untuk anakku kelak, . .

Nak, jikalau suatu hari engkau menemukan tulisan ini pasti akan ada tanya yang mendera hatimu, karena di setiap sudut tulisan akan kau temukan sebuah nuansa berbeda Mungkin kau akan berpikir badai apa yang telah terjadi di hatiku saat kau mendapati tulisan dengan nuansa sedih, Lalu kau ingin ingin mencakar orang-orang yang telah mengacaukan hatiku, Ketika kau pindah pada tulisan yang membuatmu seakan-akan melihat rona di pipiku, kau juga akan membayangkan apa yang baru saja kualami, dan ingin terbang ke masa itu bukan Setelah itu kau akan berpikir siapa kau, dia, mereka, sayang, yang dimaksudkan oleh ku saat menulis kata-kata itu Tentu kau ingin berjumpa dengan mereka? Kau pasti akan sibuk merangkai suatu tulisan demi tulisan yang lain untuk mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi pada ibumu Tidak usah bingung nak yah nak, baca saja, aku ingin kau menjadikan kata-kata adalah sahabatmu yang paling dekat.... Sungguh aku Ingin menjadi ibu suatu saat nanti ...

kau dan aku awan dan ombak...

Bila kulihat awan di birunya langit Berarak searah tiupan angin pagi Hatiku selalu bertanya Kemanakah mereka lalu pergi nanti Kala kupandang ombak di birunya langit Berkejar-kejaran tak henti s’panjang waktu Apakah yang mereka cari Sesampainya di tepi pantai pasir Begitu adanya diriku dan dirimu Seiring bersama memadu kisah kasih Selalu ada saja tanya Akankah semua kan berakhir indah Kau bagai awan yang berarak di langit biru Ku bagai ombak berkejaran di lautan Yang seolah dapat berpadu Di cakrawala senja Kita begitu berbeda sayang... Aku Ombak dan kau laut... Tidak pernah mungkin bersatu..... Tapi cukuplah aku selalu melihatmu dari sini... Aku tahu kau selalu menjagaku dari sana... Sampai akhirnya kita akan tiba pada peraduan setelah penantian itu... Info : http://musiklib.org/Agnes_Monica-Awan_Dan_Ombak_(_Feat_Yana_Yulio_)-Lirik_Lagu.htm

Mungkin,,,

Mungkin ini jawaban atas kesetiaan-kesetian itu Mungkin juga ini balasan dari keikhlasan-keikhlasan itu atau mungkin ini hadiah dari pengorbanan-pengorbanan itu untuk waktu-waktu yang telah berlalu untuk kebahagiaan yang selalu di jadikan ada untuk setiap sakit yang sengaja di sembunyikan atau mungkin saja ini hanya prasangka yang berlebih tabi benar, mana ada aksi kalau tiada reaksi sudahlah, syukuri semuanya bukankah telah beribu nikmat telah kita dekap bahkan pedih yang juga merupakan nikmat yang akan mampu menempah kita untuk bertahan dan berjuang Ya Allah, jika ini nikmat maka sungguh sejuta terima kasih untukmu dan jika ini sebuah ujian maka jangan sampai kau membuat kami silau dengan semuanya Ya Allah, sungguh tak ada tempat yang dapat kami tuju selain padamu Jikalau suatu hari niat ini melenceng maka luruskanlah ia... Ya Allah, semoga ini adalah langkah awal untuk kesempatan-kesempatan indah lain yang telah kau tulis di Lauz Mafhus