Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kisah inspiratif

Telepon

Subhanallah, sehabis shalat magrib, Hp saya berdering, sebuah nomer baru. "Maaf benar dengan Andi Asrawaty?" Suara seorang gadis di ujung telepon sana. "Ia, maaf ini siapa?" Tanyaku penasaran. "Saya Ana dari Bulukumba," Jawabnya. Saya membaca sebuah cerpen di koran dan saya berniat menganalisnya, "Ow... Ia, ada yang bisa saya bantu?" Jawabku sedikit formal, soalnya si penelponnya formal juga sih! "Penulisnya Andi Asrawaty, saya boleh tahu tidak biografi pengarang? (Tuh kan Ananya formal banget) Soalnya saya sedang menganalisis unsur extrinsik cerpen anda." Lanjutnya. "Boleh," kata saya, sambil tersenyum, Kalau boleh tahu Ana ini esema, kuliah or? Saya mencoba mencairkan pembicaraan, "Saya Mahasiswa STKIP" Em... Dan, mulailah perbincangan itu... Subhanallah, supraise banget untuk yang pertama kalinya ada orang yang berniat menganalisis cerpen saya. Dan bagian y...

Gadis Air Mata

Dia : Dasar gadis cengeng. Aku : Akh, kau tidak mengerti. Dia : Akh, aku mengerti semuanya, apa perlunya tetesan bening itu kau keluarkan. Aku… Dia : Akh, tidak usah melakukan pembelaan. Kau memang rapuh. Akui saja. Aku : Yah, kuakui. Puas? Kau tahu aku juga tidak ingin begini. Aku juga tidak ingin menangis, pun didepanmu. Jika aku diberi pilihan aku tidak mau mengangis. Tapi ini bukan soal keinginan ataupun memilih aku harus. Dia : Baiklah, terserah padamu menangislah terus, Aku : Ini bukan alasan pembelaan. Sungguh aku sungguh malu jika menangis, namun apa daya. Yah terserah kau mau bilang aku rapuh. Terserah padamu sajalah. Toh tangisanku kali ini bukan karena nyaliku kecil. Entahlah perasaan itu tiba-tiba datang sedih. Aku tidak bisa menjelaskan kronologisnya, mungkin aku hanya bisa mereka-reka. Aku : Itu mungkin hentakan. Yah, hentakan darinya tak cukup keras. Aku pun punya beribu alasan untuk menyanggah setiap kata yang dilontarkannya. Namun sedi...

Awal Tahun yang Menyenangkan: Sebuah Kisah Inspiratif

Persis sama ketika Conan berhasil memecahkan misteri, akan ada sebuah garis putih bercahaya terintas di tengah hitam... Blitzz... sebuah ide muncul, Mungkin sedang di kampus sedang berdiskusi dengan teman Mungkin warung, lalu menunggu makanan Atau mungkin sedang rapat, atau seminar atau di mana saja.. Sebuah tokoh muncul, lalu berkonflik dengan tokoh lainnya membangun sebuah cerita, Para tokoh, bahkan nyaris saling bunuh dalam imajinasi, Akh, pas nyampai di rumah aku akan tulis semua ceritanya, Di lain situasi seorang gadis tengah menulis konflik tokoh-tokoh di sebuah kertas, lalu dia berkhayal seandainya aku punya laptop, pasti tulisanku akan sangat banyak... Beberapa bulan kemudian, gadis itu akhirnya memiliki laptop, Yah, aku ngak bawa laptop... Ups, makanannya datang nulisnya entar aj deh... Dua hal di atas adalah dua hal klasik yang sering di jadikan alasan untuk menunda menulis, termasuk pun diriku,, hehe Ide bisa muncul kapan dan di mana saja, terlambat menuliskannya sebentar ...

Sepotong cerita di sore ini

Kendaraan tiada hentinya melintasi jalanan yang tidak lagi mengeluarkan panas yang taerangat panas, tentu saja panas itu telah tereduksi oleh berotasinya sang matahari ke arah barat. Sinarnya terasa hangat menimpa wajah dan juga hati. Keluar sebentar menikmati jalan yang dulu selalu terlalui ketika pulang sekolah, berdua ditemani sang mentari yang setia dengan panasnya. Terkadang aku mengeluh mengapa sinarnya begitu panas menerpa seluruh tubuhku. membuat keringatku mengucur deras, terkadang aku singgah di bawah pohon untuk sekedar melepas topi dan mengibas-ngibaskan kewajahku. terkadang aku memaki mentari yang tidak pernah bosan memberikan panas sehingga membuat kulitku menjadi hitam. yah... mentari... Tapi itu dulu, kini aku mencoba menahan keluhan karena bagi petani, cahaya matahari adalah berkah, bagi seorang pengusaha matahari adalah uang, bagi petani matahari sinar cerah untuk memancing, dan yah matahari adalah berkah. Aku masih berjalan melalui jalan-jalan ini kembali,,jalan ...

kisah sepotong hati

Malam ini aku bertemu sepotong hati. Awalnya hati itu hanya tersenyum manis, hati itu lalu menyapaku. Tapi aku hanya diam, mengacuhkannya tapi juga tak urung mengusirnya. Aku ke kampus dia mengikutiku, aku pulang ke ke rumah dia ternyata ikut, ternyata dia selalu bersembunyi di balik ransel yang aku bawa. Mulanya, aku memang merasa heran mengapa ransel yang kubawa bertambah berat, ternyata hati seberat 0, 64 kg itu menyusup tanpa aku ketahui. Ahk,,, aku masih diam, dia juga tak urung bicara, sungkan mungkin. Lalu aku mencoba tidur, ternyata dia masih bersembunyi di balik selimutku. Aku pura-pura tak menyadarinya. Namun, saat aku terbangun aku tak menjumpainya lagi. Hati itu tidak berada di sini lagi. Aku mencarinya di ransel tapi dia tidak ada, aku lalu mencarinya di dapur, mungkin dia lapar! Pikirku, tapi, ternyata tidak ada juga. Di mana yah perginya hati itu? Aku tidak ambil pusing, mungkin hati itu telah bosan terhadapku. Akirnya, hari demi hari berlalu tanpa sang hati, tapi aku ...