Langsung ke konten utama

Jejak kata untuk anakku kelak, . .


Nak, jikalau suatu hari engkau menemukan tulisan ini pasti akan ada tanya yang mendera hatimu,
karena di setiap sudut tulisan akan kau temukan sebuah nuansa berbeda
Mungkin kau akan berpikir badai apa yang telah terjadi di hatiku saat kau mendapati tulisan dengan nuansa sedih,
Lalu kau ingin ingin mencakar orang-orang yang telah mengacaukan hatiku,
Ketika kau pindah pada tulisan yang membuatmu seakan-akan melihat rona di pipiku, kau juga akan membayangkan apa yang baru saja kualami, dan ingin terbang ke masa itu bukan
Setelah itu kau akan berpikir siapa kau, dia, mereka, sayang, yang dimaksudkan oleh ku saat menulis kata-kata itu
Tentu kau ingin berjumpa dengan mereka?
Kau pasti akan sibuk merangkai suatu tulisan demi tulisan yang lain untuk mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi pada ibumu
Tidak usah bingung nak
yah nak, baca saja, aku ingin kau menjadikan kata-kata adalah sahabatmu yang paling dekat....

Sungguh aku Ingin menjadi ibu suatu saat nanti...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminggu Selepas Purnama

Seminggu selepas purnama, Maaf aku tak datang Seminggu selepas purnama Ada yang mencipta berbagai guratan yang menyeretku, terpaku Aku terjebak dalam labirin wajah rembulan dan menghilang Dan kita hanya bisa berjanji Tentang pertemuan, seminggu selepas purnama Karena takdir mampu menyapu dan mengubah segala Seperti awan yang tiba-tiba menutupi bulan Seminggu selepas purnama Kudengar ada adik kecil berjiwa bidadari pergi, Menuju rumah abadinya Kau boleh bersedih Aku bahkan tidak mampu mengucap satu kata pun Aku berdoa dalam diam Dan benar katamu Ia tidak mati, tapi ia sedang memulai hari kehidupan yang baru Di tempat yang berbeda Namun yakinlah, kita akan bertemu pada minggu-minggu berikutnya selepas purnama yang entah Pada suasana yang tidak bisa kita tebak Seminggu selepas purnama Aku dilema, tanpa kata, tanpa kabar Tanpa perpisahan Karena memang tidak ada perjumpaan Seminggu selepas purnama Seseorang di sana merindukanku, lebih dari biasa Palu, ...

Tanpa Suara

Hukuman paling telak adalah diam Jiwa terasa tercerabut Semangat melayang entah ke mana Jika kau masih diam Maka kelak kau akan menjumpainya Diam selamanya Karena dia telah mati bersama kata-kata terakhirmu

Belajar dari Palayanan Kesehatan Makassar, Menebar Inspirasi dan Manfaat Bersama Astra

Bagi kami sekeluarga berobat ke dokter dan dirawat inap di rumah sakit adalah pilihan terakhir. Ibu saya pernah mengalami trauma pasca kematian adik saya. Usianya baru tiga bulan saat itu, Amal, nama almarhum demam   tinggi dan sangat rewel, situasi   yang tidak biasa karena biasanya Almarhum adalah bayi yang tidak rewel. Saat itu, Ibu akhirnya memutuskan untuk membawa adik saya ke rumah sakit, setelah dirawat inap tiga hari. Amal meninggal. Saya lupa apa penyebab kematiannya, usia saya saat itu masih tiga tahun, tapi konon saat itu adik saya mengalami mal praktek. Selepas kejadian tersebut, Ibu akhirnya sangat trauma. Bahkan saat saya sakit tipes, hampir satu bulan lamanya saya bedrest di rumah, ibu tidak ingin saya dirawat di rumah sakit.  Mungkin kasus tentang adik saya tersebut hanya satu di antara ratusan kasus yang terjadi, sebagian diketahui oleh publik sebagian lagi hanya menjadi cerita yang tidak tersampaikan. Hal ini yang kemudian menjadi salah satu fa...