Kelopak mata bak menanggung berkilo-kilo beban
Kepala serasa ditumbuhi serabut yang menyerang saraf-saraf
Entah ini sudah yang keberapa, terus menguap
Tapi ada yang terus terbang merayap
Menatap wajah-wajah, silih berganti
Mengatur rencana-rencana, yang masih absurb
Menganalisa kabar-kabar yang menggilas
Juga menanangkap kenangan-kenangan yang masih terperangkap
Menjeritkan hal-hal yang ingin diubah
Membaca peristiwa-peristiwa yang kapan berakhir
Mencoba menebak-nebak cara bergerak seperti para penjejak sejarah yang tangguh
Dan kita terus terjaga
Untuk melawan hal yang mengungkung
Seminggu selepas purnama, Maaf aku tak datang Seminggu selepas purnama Ada yang mencipta berbagai guratan yang menyeretku, terpaku Aku terjebak dalam labirin wajah rembulan dan menghilang Dan kita hanya bisa berjanji Tentang pertemuan, seminggu selepas purnama Karena takdir mampu menyapu dan mengubah segala Seperti awan yang tiba-tiba menutupi bulan Seminggu selepas purnama Kudengar ada adik kecil berjiwa bidadari pergi, Menuju rumah abadinya Kau boleh bersedih Aku bahkan tidak mampu mengucap satu kata pun Aku berdoa dalam diam Dan benar katamu Ia tidak mati, tapi ia sedang memulai hari kehidupan yang baru Di tempat yang berbeda Namun yakinlah, kita akan bertemu pada minggu-minggu berikutnya selepas purnama yang entah Pada suasana yang tidak bisa kita tebak Seminggu selepas purnama Aku dilema, tanpa kata, tanpa kabar Tanpa perpisahan Karena memang tidak ada perjumpaan Seminggu selepas purnama Seseorang di sana merindukanku, lebih dari biasa Palu, ...
Komentar