Langsung ke konten utama

Obvious Prose

Aku tahu sayang,
Di hari jadimu ini kau tidak menginginkan kado apapun dariku
Pun puisi romantis,
Selain cinta, kesetiaan, pengertian dan doa yang tulus

Maka aku tak menuliskan Kata romantis,
Hanya sebuah cerminan hati,

Terima kasih sayang, karena telah menjadi suami yang hebat.
Terima kasih karena sudah berusaha bekerja keras untuk masa depan kita.
Terima kasih untuk pengertian dan cinta yang terkadang malah kusalah pahami
Terima kasih karena selalu setia mendengar keluhanku bahkan ketika lelah menyerangmu
Terima kasih karena nasehatmu yang meneduhkan, bahkan ketika kantuk telah menyergapmu
Semoga Allah selalu menjaga hatimu, dan membuat waktu mengkristalkan segalanya.

Bukan lagi prosa romantis
Tapi aku juga akan menjadi istri berusaha mematuhimu, mengerti dirimu sayang. Menjadi Istri solehah yang akan mendampingimu, hingga kau menjadi Imam yang akan mengantarkan keluarga kita sehidup, sesurga (minjam istilah Fahd Pahdepie)

Aamiin.

Makassar, 07/04/2016
Hari ini hari jadimu dan aku tidak di sana, tapi hatiku selalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seminggu Selepas Purnama

Seminggu selepas purnama, Maaf aku tak datang Seminggu selepas purnama Ada yang mencipta berbagai guratan yang menyeretku, terpaku Aku terjebak dalam labirin wajah rembulan dan menghilang Dan kita hanya bisa berjanji Tentang pertemuan, seminggu selepas purnama Karena takdir mampu menyapu dan mengubah segala Seperti awan yang tiba-tiba menutupi bulan Seminggu selepas purnama Kudengar ada adik kecil berjiwa bidadari pergi, Menuju rumah abadinya Kau boleh bersedih Aku bahkan tidak mampu mengucap satu kata pun Aku berdoa dalam diam Dan benar katamu Ia tidak mati, tapi ia sedang memulai hari kehidupan yang baru Di tempat yang berbeda Namun yakinlah, kita akan bertemu pada minggu-minggu berikutnya selepas purnama yang entah Pada suasana yang tidak bisa kita tebak Seminggu selepas purnama Aku dilema, tanpa kata, tanpa kabar Tanpa perpisahan Karena memang tidak ada perjumpaan Seminggu selepas purnama Seseorang di sana merindukanku, lebih dari biasa Palu, ...

Tanpa Suara

Hukuman paling telak adalah diam Jiwa terasa tercerabut Semangat melayang entah ke mana Jika kau masih diam Maka kelak kau akan menjumpainya Diam selamanya Karena dia telah mati bersama kata-kata terakhirmu

Belajar dari Palayanan Kesehatan Makassar, Menebar Inspirasi dan Manfaat Bersama Astra

Bagi kami sekeluarga berobat ke dokter dan dirawat inap di rumah sakit adalah pilihan terakhir. Ibu saya pernah mengalami trauma pasca kematian adik saya. Usianya baru tiga bulan saat itu, Amal, nama almarhum demam   tinggi dan sangat rewel, situasi   yang tidak biasa karena biasanya Almarhum adalah bayi yang tidak rewel. Saat itu, Ibu akhirnya memutuskan untuk membawa adik saya ke rumah sakit, setelah dirawat inap tiga hari. Amal meninggal. Saya lupa apa penyebab kematiannya, usia saya saat itu masih tiga tahun, tapi konon saat itu adik saya mengalami mal praktek. Selepas kejadian tersebut, Ibu akhirnya sangat trauma. Bahkan saat saya sakit tipes, hampir satu bulan lamanya saya bedrest di rumah, ibu tidak ingin saya dirawat di rumah sakit.  Mungkin kasus tentang adik saya tersebut hanya satu di antara ratusan kasus yang terjadi, sebagian diketahui oleh publik sebagian lagi hanya menjadi cerita yang tidak tersampaikan. Hal ini yang kemudian menjadi salah satu fa...