Langsung ke konten utama

Skenario Allah

Sungguh semua tak pernah terencana
Apa yang akan terjadi esok
Terlepas ingin atau tidaknya hal ini terjadi
Tapi sungguh kami hanya mengikuti petunjuk waktu
Mencoba mencermati kompas kehidupan
Bertahan diantara semua badai yang berusaha mengoyak
Berjuang dalam hantaman ombak yang meneror setiap saat
Kami hanya terus bertahan
Karena satu alasan cinta pada-Nya
Sungguh kami tidak ingn berharap lebih
Namun siapa yang akan menyangka apa yang terjadi esok
Dan jika esok kau temukan layar perahu ini bercorak pelangi
Setelah dihantam oleh badai, hujan serta petir yang maha dasyat
Sungguh semua terlepas dari kehendak kami
Allah adalah skenario segalanya
dan Siapakah yang Maha berkehendak selain diri-Nya
Lalu marilah kita berdamai mengarahkan orang-orang menaiki perahu ini
Walaupun mungkin berbeda,
Bukankah arah yang kita tuju adalah satu bukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dari Palayanan Kesehatan Makassar, Menebar Inspirasi dan Manfaat Bersama Astra

Bagi kami sekeluarga berobat ke dokter dan dirawat inap di rumah sakit adalah pilihan terakhir. Ibu saya pernah mengalami trauma pasca kematian adik saya. Usianya baru tiga bulan saat itu, Amal, nama almarhum demam   tinggi dan sangat rewel, situasi   yang tidak biasa karena biasanya Almarhum adalah bayi yang tidak rewel. Saat itu, Ibu akhirnya memutuskan untuk membawa adik saya ke rumah sakit, setelah dirawat inap tiga hari. Amal meninggal. Saya lupa apa penyebab kematiannya, usia saya saat itu masih tiga tahun, tapi konon saat itu adik saya mengalami mal praktek. Selepas kejadian tersebut, Ibu akhirnya sangat trauma. Bahkan saat saya sakit tipes, hampir satu bulan lamanya saya bedrest di rumah, ibu tidak ingin saya dirawat di rumah sakit.  Mungkin kasus tentang adik saya tersebut hanya satu di antara ratusan kasus yang terjadi, sebagian diketahui oleh publik sebagian lagi hanya menjadi cerita yang tidak tersampaikan. Hal ini yang kemudian menjadi salah satu fa...

Biar Semesta yang Bicara

Dulu kukira kepergianmu akan meninggalkan gema, tapi rupanya hanya debu yang kau tinggalkan di sela meja. Kau pergi tanpa pamit, tanpa maaf yang kaunyatakan, lalu kembali dengan status panjang tentang keikhlasan. Sempat kucari kejelasan di ruang nyata, di mana sisa pekerjaanmu sempat menjadi tanda tanya. Ruang yang dulu kau tinggalkan berantakan, aku yang membereskannya tanpa banyak keluhan. Sejak dulu aku tidak pernah mengetuk pintumu kembali, pun tidak akan mengusik ketenangan barumu kini. Silakan berlari mengejar ritme yang kau mau, Biarkan saja kini alam semesta yang bekerja, menimbang setiap ketulusan dan tanggung jawab yang ada. Sebab dunia ini selalu punya caranya sendiri, untuk mengembalikan apa yang pernah kita beri.

Kamu Tetap Seorang Ibu

 Seorang ibu, tetaplah seorang ibu, seberapa menyeramkan apapun dia. Seorang Ibu, segalak apapun dia, tetaplah seorang Ibu. Ibu, kau tidak akan terganti oleh apapun, seberapa kejamnya orang atau dunia menghinamu, tetaplah tegar. Kuatkanlah dirimu. Semangatlah. Karena sungguh, menjadi ibu sungguh tidak mudah. Menjadi ibu membuatmu hampir melupakan jati dirimu. Kamu hijrah, sepenuhnya dengan status baru. Kamu adalah ibu, ibu yang hebat.