Langsung ke konten utama

Postingan

14.05.14. 24

(Rasa Nano-nano di Usia 24) Tanggal keramat, ah tidak menurutku itu tanggal cantik. Lagi usia meranggas, satu persatu, harusnya saya bersedih, karena waktuku bersama kalian terus berkurang. Lembaran kalender terus berganti tanpa kusadari. Moment-moment tahunan datang lagi, rasanya baru kemarin. Waktu benar-benar berlari dengan cepat, dapat menggilas siapa saja jika tidak memanfaatkannya dengan baik. Akh, waktu begitu banyak ayat yang harusnya mengingatkan kita bahwa waktu begitu berharga. Sangat, tapi ternyata kadang kita terlena dan... Lupa Dua puluh tiga, adalah usiaku yang kemarin. Aku ingat, usia 23 tiga tahun ini adalah usia yang tidak mudah. Seperti permen nano-nano. Secara kasat mata, semua mungkin baik-baik saja, yah ada beberapa pencapaian memang, beberapa telah aku tulis, kalian bisa membacanya di http://charaaw.blogspot.com/2013/11/day-after-day.html   tapi menurutku semuanya karena Allah, juga karena doa-doa ibu yang tak lelah dipanjatkannya selepas shalat, ...

Kereta Rasa

Aku yakin kita akan baik-baik saja Ketika tak ada sapa yang sempat di jumpai Saat jarak mengulur pisah tak selesai Pun jika asa, tak selalu dapat sampai Aku yakin kita akan baik-baik saja Menjalani hari dengan angan yang selalu terurai Membersamai ketidakbersamaan dengan harapan Ku yakin kita kan semakin menjulang Di antara jarak yg suatu hari mungkin akan retak Kita menyusun jalan-jalan untuk mempersempit jarak yg manjelma menua dan menahun Kau membangun rumah dari sebuah profesionalisme, Aku mengabdian diri pada dedikasi sosial Kita menjual diri pada-Nya untuk membeli sebuah kebebasan hakiki Berjuang untuk sebuah cita-cita tertinggi Saat matahari menua Ketika dunia sedang kocar-kacir Dan manusia telah berubah wujud menjadi binatang-binatang Aku yakin kita masih berdiri teguh pada sebuah prinsip yang sama Maka biarlah kita berjumpa melalui titian doa Yang berhembus bersama angin Dan menyapa bagai embun pagi Juga dititip pada sayap malaikat Aku yakin kit...

Kabar Angin

Aku mendengar kabar angin Yang berseliweran, tepat di atas kamarku Hati tak karuan Kepala berdenyut Gundah datang Aku berharap semua hanya kabar angin Tentang sibuk memasang-masangkan Takut tak kuasa berontak Lalu terbawa arus Lalu aku menghilang dibawa angin Jauh Aku masih deg-deg an Berharap semua hanya kabar angin Yang tidak benar-benar sampai Membawaku pergi Lagi, hanya berharap pada Sang Penguasa angin Semoga yang benar2 datang nantinya adalah yang terbaik

Merapal Dosa

Pernah aku ingin berhenti berbicara Saat menyadari mulutku memuntahkan peluru Sungguh sulit mengalahkan malaikat Apa lagi membuat bidadari cemburu Di antara Iman yang masih terengah-engah Lalu aku berharap saat itu diam saja Lafal maaf tak terhingga pada lisan Akan kah menebus dosa agar dapat kembali pada Rabb Air mata tak terbendung cukupkah menjadi pembasuh noda-noda yang bersemayam di hati untuk bertemu dengan Rasulullah Lalu tentang laku yang tak seharusnya Juga hati yang terkadang lepas kendali Kembalilah pada-Nya Ke mana lagi kulabuhkan maaf Di mana lagi kuakui khilaf Pantaskah aku di sini Di tengah-tengah cahaya Saat mungkin aku menjadi penyebab padamnya cahaya di hatimu Oh.. Sungguh... Maka aku kembali bercermin Sunguh malu hati ini Bahwa cinta-Mu masih kau tebar Di seluruh penjuru jiwaku Aku masih akan tetap menengadah pada-Mu Akan selalu begitu, Menahan lisan Menahan laku Menahan sikap Saat akal dan ilmu bersepakat Untuk menghakimi

Apa yang bisa kuhadiahkan selain kata-kata, Dik?

Aku seorang penulis (walaupun penulis blog) maka biarlah kurangkaikan kata-kata khusus di hari ini. Mungkin kau pikir aku melupakan hari ini. Hari di mana kau lahir ke dunia. Bagaimana bisa? Sedangkan saat itu aku menanti-nanti kehadiranmu di dunia. Oh, bukan aku saja, tapi kami tepatnya, Ummi, Etta, juga Dg Asrul, saat itu tentu saja Fila belum lahir. Kau pikir aku sudah melupakan hari ini, hari yang bertepatan dengan hari bumi, 22 April. Maka syukurlah, hari ini aku punya sedikit waktu untuk merangkai kata sebagai kado untukmu. Tahukah, saat itu hari minggu, seperti biasa, aku menemani Ummi jalan-jalan, perut Ummi sudah besar, saking besarnya, Ummi tidak bisa melihat kakinya sendiri. Saat itu usia Ummi tidak muda lagi seperti saat mengandung Dg Asrul yang hanya berbeda 4 tahun dariku, saat usia Ummi masih 20 tahunan, kria-kira ummi mengandung dg Asrul usia 25 dan mengandungku saat usia 29. Saat mengandungmu diperutnya, Ummi sudah berusia 40 tahun. Usia yang cukup rentan un...

Kutukan

Hah... Sekelumit kata itu sungguh serupa kutukan Yang menembus dadaku Membuatku uring- uringan sepanjang jam Kutukan Yang tak akan pernah kulupa Aku kasihan padamu Pada moncong yang begitu mudah menyerapah lalu menyejarah Yang selalu kau asah dengan darah Lalu pada korban2 yang jatuh tak lagi pernah bangkit Akh, sungguh aku tak pernah tega Aku berdoa agar kau panjang umur Saat kau bisa melihat Kutukanmu tidak berlaku padaku Suatu hari aku akan datang lagi Melenyapkan kutukan dari titahmu

Subuah Pengakuan

Maaf aku pergi Kau tak lagi membutuhkanku di sini Aku bahagia melihatmu telah berevolusi Walaupun tak pernah kutahu dengan jelas Katamu tak semua yang tampak sperti yg kukira Maka, aku berikan kalimat yang sama Kita masing saling berjalan menuju puncak Dengan posisi yang berbeda Aku memilih pergi Pernah aku nyatakan bahwa aku mempercayaimu Tapi bagaimana mungkin jika kau tidak mencoba mempercayai dirimu sendiri Entahlah, apakah itu artinya kepercayaanku tak penting bagimu Tapi sudahlah, saatnya aku pergi Aku bahagia, melihatmu telah berdiri di tempat yang sama Aku hanya yakin, bahwa sebaik-baik penjaga hanyalah Allah Aku, tak pernah takut meninggalkanmu Pun semua yang terjadi padamu Tak ada hubungannya denganku Aku, bukan siapa-siapa Aku yakin, ketika Allah telah memberikan hidayah maka siapapun tak akan kuasa mencabutnya, pun dirimu sendiri Kini aku pergi Menitipkan segenggam asa padamu, bolehkah? Bukan untukku Suatu hari jika takdir mempertemukan kita kembali ...

Labuni Essoe

Labuni essoe turunni uddanie Wettunnani massenge’ ri tau mabelae Mabelani laona tengnginana taddewe’ Tekkarebannapole, teppasenna pole Waseng magi muonro ri dolangeng Temmulettutona temmurewetona Iyami ripuada idi tea iyya tea Idi temmadampe iyya temmasenge Idi temmadampe iyya temmasenge Ajamua mupakkuamenreppa ri cempae Uanrei buana na mecci elo’mu Uanrei buana na mecci elo’mu Mecci elo manre cempa Waena kalukue mappasau-sau dekka Waena kalukue mappasau-sau dekka

Mendesak Rasa

Kau bagai malam Pekat Tak tertebak Kadang membawa damai Kadang menghadiahkan gigil Bukankah aksara telah menjelaskan segala Di helai-helai buku yang termakan rayap Tentang jalan yang seharusnya telah kau pilih Kau bagai siang Kadang memberi hidup Kadang membakar Kadang aku lelah menunggu fajar Apakah nanti kau akan sampai pada cahaya Haruskah aku mengemis cinta Lalu mengumumkan rindu pada semesta Akan hadirmu Sultan Al-Fatih Tak inginkah kau menjadi salah satu prajuritnya Ummu Sulaim Tak inginkah kau menjejaki langkahnya Yang menunggangi kuda-kuda Mengasah pedang Mengharap Mahar Keimanan Menghiasi kecantikan Allah Rasulullah Saat kau mengucap nama-Nya Ada getaran yang Dasyat Ada cinta membuncah Ikutlah ke dalam barisan Di mana nada-nada cinta Bersenandung dalam lantunan ayat Suci Mengeluarkan gelap menuju terang Bahkan senja, pelangi, bintang, matahari dan semua benda yang kau kagumi Akan tunduk padamu atas kehendak-Nya Lalu katakan apa yang ka...

Menakar Rindu

Aku. Tak pernah lagi mengusir rindu Menghirup nafas, membiarkn rindu menelusup ke dada Menikmatinya diam-diam Sambil mengigat-Nya Dan masih ada ingatan yang menjaring wajahmu Di antara desah nafas Aku tak perlu mengusir rindu Biarkan dia menjelajah Di tempat yang semestinya Sungguh tak perlu mengusirnya Bisa-bisa dia berubah ganas menjadi badai Bukankah rindu telah kau takar Agar angin yang mengingatkanmu pada-Nya Betapa indah segala cipta-Nya Biar rindu menjadi angin sepoi Yang akan menawarkan sejuk di hati Saat melihat ideologi terinjak-injak.

Menjahit Hati

Kekuatan dari mana kalau bukan dariNya Tiap kali menyaksikan hatimu banjiri oleh darah, Darah yang losos dari jebolan jahitan yang sudah berkali-kali lepas Tiap kali ada pemicu walau bukan darinya Maka memori akan seakan kembali membentuk pisau yang menyayat dan memutus ribuan jahitan yang membujur,.melintang diseluruh hatimu Kekuatan dari mana? Kalau bukan karenaNya Bahwa satu2nya kekuatan yang kumiiki adalah kembali membantumu menjahit hatimu yang terkoyak untuk sekian kalinya... Entah, disujud keberapa hati itu akan selalu kmbali utuh dengan jahitan yang tak terhitung Dan engkau akan kembali tegak berdiri Mengarungi kehiduan Dengan hati yang kembali mulus tanpa bekas Lalu menyongsong mimpi2 yang kau telah amanahkan padaku Maka kau tahu, alasanku masih berdiri tegak Dengan senyum yang terurai Kekuatan dari mana kalau bukan dariNya Adalah karena dirimu Aku membungkus hatiku dengan perban, agar kau tidak pernah tahu. Darah dihatiku juga menderas. Sungguh kau tidak pe...

Berdamai

Bosan aku dengan perang dingin yang belum jua berakhir Rasanya seperti teriris Kala nyatanya jabatan tangan kita hari itu hanya sekedar formalitas Namun hati kita masih menyulut bara Akh, siapakah yang mampu memisahkn akar dari pohonnya kecuali dia akan melihat kita mati perlahan-lahan Oleh pisah yang bukan karenaku juga karenamu Sampai ketika kita menangis meraung-raung dalam diam akibat rindu yang disumbat dendam dan gengsi Yang meracuni diri Aku akan berlari melawan waktu meraih maaf yang sudah lama kau berikan sebenarnya Dan saat pertikaian ini terjadi, Aku menjadi paham betapa cintamu yang sangat besar terkadang membuatmu tak berpikir logis. Maka semoga Allah masih memberi waktu Dalam sebuah perdamaian yang akan membuat penduduk bumi menagis dalam haru Bahwa cinta kita tidak akan pernah terpisah lagi setelah ini Pun suatu hari saat aku pergi, dalam pelukan Imamku nantinya Kau, akan berdiri dengan cinta yang semakin berlipat, Semoga, aku masih memiliki waktu agar ma...

Menjemput Cahaya

Maaf telah membawamu masuk ke jalan -jalan sepi. Jalan yang tak banyak dilalui orang. Aku melihatmu mulai menemukan titik-titik cahaya di sana, menengadah ke langit dengan tersenyum. Akh, khawatir sebenarnya meninggalkanmu sendiri di sana, dengan iman yang masih prematur. Maaf tak mampu menemanimu melewati segala. Ini memang jalan yang sepi. Bahkan saat kau mulai mencoba memakai pakaian takwa, orang pertama yang mungkin mengolokmu adalah keluarga Lalu di kampus kau pasti akan bertemu dengan nada-nada satire akan sikap dan pemikiranmu yang mulai berbeda Dan karena perubahan sikapmu oleh ilmu yang telah terinternalisasi, kau akan berada ke subuah dunia baru, meninggalkan atau ditinggalkan oleh komunitasmu. Yah, aku tahu semuanya berat. Terimakasih telah bersedia menemaniku menanggung beban ini Beban yang tidak mampu ditanggung bahkan oleh langit, bumi dan gunung sekalipun. Tapi apakah jalan ini benar-benar sunyi? Karena akan ada kebahagian yang selalu menelusup perlahan ke hati, ...

Januari dan Kita

Januari kembali menyapa dan dalam hitungan detik akan kembali pergi... Sepertimu, yang entah Di awal januari, aroma kematian dihantar tangisan awan yang menyesak bumi dan hati Tapi, selalu ada penawar setiap kali mengingat pertemuan kita yang juga berlatar Januari Pertemuan kata-kata yang menembus lebatnya hujan Membawa serenade magis di hati kita Lalu aku mencoba bernegosiasi dengan waktu... Ini sudah januari keberapa? Berapa januari aku harus menunggu... Atau aku terima saja tawaran di februari, maret, april atau mei? Lalu jika juni, juli, agustus, september dan oktober datang menuntut aku harus bagaimana Lalu november datang merajuk membawa mimpi indah Tidak aku sedang tidak menuntut apa-apa aku masih mengagumi daun yang tak pernah marah jika embun pergi bersama mentari, karena dia tahu, saat fajar mnyingsing, ksejukan itu akan selalu datang tepat waktu Aku sedang tidak bertanya apapun, karena jawabannya tidak terdapat di manapun, tapi di hati kita Dan kuputuskan ak...

Repair Mind and Heart

Belakangan ini saya mendengar banyak suara-suara keluhan di sekitar saya. Bahkan tidak jarang keluar dari mulut saya sendiri, kalau tidak bahkan keluhan itu dalam hati saya.  Namun, Allah memberi kita sebuah device yang begitu canggih, ada yang menyebutnya hati atau yang lainnya menyebutnya pikiran. Entah, atau masih ada ada yang berdebat di mana tempat device ini.  Dia berfungsi untuk membangun perasaan gelisah ketika suara-suara negatif mendominasi, untuk segera menetralkan kembali. Ada yang salah padaku. Dia menyadarkan ketika virus-virus mulai menyerang perlahan. Maka sesungguhnya, ada jawaban yang datang. Dari kompilasi yang indah antara hati dan pemikiran, bahwa ketika kau banyak mengeluh, sesungguhnya kau sedang lupa bersyukur. Bahwa bukankah sudah begitu banyak nikmat bertebaran memelukmu? Hanya saja kita lebih terfokus, pada debu-debu cobaan yang melekat, padahal jujurlah, untuk menyingkirkannya kita hanya membutuhkan sekali dua kali tepukan, dan debu itu a...

Merekam akhir Desember

Memulai cerita TOWR dengan sebuah prolog mengenai kehidupanku beberapa bulan terakhir.  Yah, beberapa bulan terakhir ini, saya berkutat dengan kegiatan akademik kampus. Kuliah sekaligus mengajar. Ternyata menjalani semuanya tidak semudah membayangkannya. Saya senang belajar, juga mengajar karena kita bisa berbagi banyak hal. Saya pikir semuanya akan menjadi lebih mudah. Ternyata, saya dihimpit oleh waktu. Menginjak tahun ke dua mengajar, saya dipercayakan 6 kelas dengan 3 mata kuliah yang berbeda. Mungkin ketua prodiku lupa, jika saya sedang menempuh kuliah s2. Tapi, kepercayaan adalah hal yang penting, sebagai pengajar baru, menolak mata kuliah yang diberikan saya pikir sangat lancang.  Maka mulailah saya berkutat dengan rutinitas yang cukup membuat stressfull, di Makassar saya kuliah setiap hari selalsa, rabu dan kamis. Kamis, sepulang kuliah, saya mempersiapkan lesson plan. Sorenya kembali ke Bone, saya akan tiba sekitar pukul 2 dini hari, essok harinya langsung m...

Bahasa Ibu

Setiap tetesan bening yg jatuh dipipimu Ibu Mngkn tk dapat sepenuhnya kuhapus Aku akn melakukn apapun agr air mata itu tak tumpah karenaku, kecuali sebuah butiran kebahagiaan Malam ini, hujan jatuh dr langit hatimu Membrsamai keergianku, menjemput risalah sang Maha agung Hujan air mata, karena lukaku Sungguh luka akn selalu ada ibu Dia adalah ujian untuk orng2 beriman Ibu, kau selalu mngganti air mata mnjadi doa Malam ini aku belajar... Berusaha agr tk lagi trluka, krn siapapun Krn katamu Lukaku adalah lukamu Taukah Ibu, air mata ibu adalah air mataku disetiap sujudku Namamu selalu ada Seperti di setiap doa panjangmu yg juga dipenuhi air mata penuh sykur, cinta dan pngharapan.. Malam ini aku kmbali belajar bahasa padamu, seperti biasa Kali ini adalah bahasa memaafkan

Etalase Rindu

Risau mengepung Bingung membadai Bagaimana aku titipkan rindu padamu Bukan karena kita terpisah oleh samudra ketika angin mengabarkan kepergianmu kepulau nun jauh di sana Tidak juga karena kita tak pernah bersua bukankah perjumpaan pada judul-judul buku mengikat simpul tak terputus dimemori? Bukan, tidak, karena memang belum sepantasnya rindu menguap menjumpaimu Kita, terpaut pada hubungan yang entah, Lalu, di mana mesti kutitipkan rindu? Aku, memilih menahannya, di etalase-etalase rindu Pada sujud-sujud panjang Pada doa-doa yang dibawa malaikat sampai padaNya Juga pada gerimis yang jatuh Pada ayat-ayat yang dilantunkan disepertiga malam   Pun pada puisi-puisi yang mungkin tak trbaca Aku masih menunggu, Hingga kau memilih pada sebuah etalase rindu menuju titian pelangi di mana kita bisa bertemu dalam rindu yang menggetarkan Arsy Bone, 13 Desember 2013

Day after Day

Tidak Perlu Menunggu Moment Tahun Baru (Part I) Empat belas purnama berlalu setelah toga berhasil terpasang, juga gelar sarjana yang melekat. Tak terasa, semua berlalu begitu cepat, masih teringat dengan berbagai memori saat berstatus sebagai mahasiswa S1. Mengejar prestasi, menulis, aktif di organisasi kepenulisan kita, juga mencapai target-target dakwah bersama para muslimah yang luar biasa (para mutiara peradaban: saya selalu menyebut mereka begitu). Terlalu banyak hal yang telah terjadi. Sekarang semua telah berganti dengan suasana yang baru. Setting tempatnya memang masih sama, saya kembali ke Unhas, melewati koridor-koridor yang sama, tapi tentunya dengan status mahasiswa S2, yang semuanya telah berbeda. Yah, di empat belas purnama ini, telah begitu banyak yang terjadi. Aku tak sempat merekamnya dalam tulisan, jadi mungkin akan ku-rangkum saja. Tidak perlu menunggu moment tahun baru kan, untuk mengingat apa-apa saja yang telah terjadi dan berlalu.  Ngajar Satu ...