RSS

Seminggu Selepas Purnama


Seminggu selepas purnama,
Maaf aku tak datang

Seminggu selepas purnama
Ada yang mencipta berbagai guratan yang menyeretku, terpaku
Aku terjebak dalam labirin wajah rembulan dan menghilang

Dan kita hanya bisa berjanji
Tentang pertemuan, seminggu selepas purnama
Karena takdir mampu menyapu dan mengubah segala
Seperti awan yang tiba-tiba menutupi bulan

Seminggu selepas purnama
Kudengar ada adik kecil berjiwa bidadari pergi,
Menuju rumah abadinya
Kau boleh bersedih
Aku bahkan tidak mampu mengucap satu kata pun
Aku berdoa dalam diam
Dan benar katamu
Ia tidak mati, tapi ia sedang memulai hari kehidupan yang baru
Di tempat yang berbeda

Namun yakinlah, kita akan bertemu
pada minggu-minggu berikutnya selepas purnama yang entah
Pada suasana yang tidak bisa kita tebak

Seminggu selepas purnama
Aku dilema, tanpa kata, tanpa kabar
Tanpa perpisahan
Karena memang tidak ada perjumpaan

Seminggu selepas purnama
Seseorang di sana merindukanku, lebih dari biasa

Palu, Pantai Talise, 29 Julli 2017

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menabung Rindu

Kusisipkan rindu pada lipatan sajadah
Juga pada jendela yang berembun karena hujan doa-doa
Kuselipkan resah pada pertengahan kitab cinta-Nya
Juga pada meja makan yang kesepian
Kuletakkan hasrat pada sampul buku puisi
Juga pada kata-kata yang menangis karena tak menemukan rumahnya
Kusimpan ketakutan pada gudang kosong yang mencekam
Juga pada laci meja yang terkunci
Lalu suatu hari
Kau menemukannya
Lalu tak mampu menghitungnya
Karena Rindu tergeletak di mana-mana
Bahkan saat kita tak berjarak
Dan rindu semakin pekat

Jakarta, 18 Juli 2017

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Yang Tertinggal Setelah Pertengkaran

Buatku pertengkaran dalam rumah tangga adalah suatu hal yang harus terjadi. Setiap rumah tangga pasti mengalaminya. Bagaimana tidak, kita harus menyatukan dua kepala yang berbeda, baik latar belakang, pendidikan, konunitas, hobby, dan lainnya. Semua perbedaan itu tentu saja mempengaruhi pandangan kita terhadap sesuatu, dan cara kita menyelesaikan masalah. Jadi pertengkaran adalah hal yang sangat wajar. Dan sayangnya tidak sedikit pasangan yang akhirnya memutuskan untuk berpisah karena ketidakcocokan dan pertengkaran tanpa henti.

Namun sekali lagi, pertengkaran adalah hal yang sangat wajar terjadi, namun bukan berarti pertengkaran selalu berakibat negatif, semua tergantung cara kita menyikapinya. Bahkan, ada hal-hal positif yang bisa kita dapatkan setelah berselisih paham. 

Pertama, kita jadi tahu perasaan dan pemikiran pasangan kita. Biasanya saat bertengkar semua uneg-uneg yang terpendam akhirnya keluar, hal ini baik, karena masalah terbesar dalam rumah tangga bukan karena rasa cinta yang hilang atau berkurang. Masalah terbesarnya adalah kesalahpahaman yang disebabkan oleh perbedaan cara berpikir antara perempuan dan laki-laki.  

Kedua, agar pertengkaran dapat mereda kita harus mampu menghilangkan sifat egois, karena saat pertengkaran terjadi, kita harus mau mendengarkan pasangan, walaupun merasa yang paling benar. Hal ini akan membuat rasa egois kita menjadi luntur.

Ketiga, Setelah mendengarkan alasan pasangan, harusnya kita berlapang dada, jikalau hal yang kita permasalahkan adalah kekurangan pasangan, selama hal itu masih bisa dimaklumi, baiknya kita dapat menerimanya dengan ikhlas. Tetaplah mencintainya, menerimanya, bisa jadi saat kita ternyata telah ikhlas dengan kekurangannya, diam-diam dia berubah untuk kita.

Keempat, setelah ketegangan terjadi, maka cepatlah meminta maaf, tidak ada gunanya mempertahankan pertengkaran. Hal itu hanya akan membawa aura negatif yang akan membuat dunia kita menjadi sempit. Karena bagaimanapun ketenangan adalah hal yang dibutuhkan bersama pasangan.

Kelima, berubahlah, berusahalah untuk mengikuti kemauan pasangan, menaati suami, menuruti istri, selama hal itu adalah untuk kebaikan. Bukankah cinta menerlukan pengorbanan. Bukankah cinta adalah memberi.

Keenam, biasanya setelah pertengkaran, hubungan akan menjadi semakin mesra. Bagaimana tidak, setelah mungkin berhari-hari terjadi perang dingin, kurang komunikasi, rindu tapi malu. Akhirnya semua usai, dan rindu yang terhalau oleh marah dan gengsi dapat segera dituntaskan.

Ketujuh, sebagai sarana mendekatkan diri. Sebenarnya disituasi apapun kita harus senantiasa mendekatkan diri pada Allah. Namun, begitulah manusia saat terdesak, maka doa-doa akan semakin panjang. Ketika mengalami masalah dengan pasangan, adukanlah pada Sang Maha Pengatur, Maha Pemilik Hati, berodalah padanya agar hati pasangan diluluhkan, dan hati kita semakin dipautkan dalam cinta-Nya. Ingatlah selalu tujuan pernikahan adalah untuk memperoleh ridho-Nya.

Jadi, sungguh pertengkaran dalam rumah tangga kadang-kadang diperlukan. Namun jangan terlalu sering, dan sebaiknya dihindari, Karena tentu berkasih sayang jauh lebih baik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nasehat

Terkadang aku sengaja membuatmu kesal
Bahkan Marah
Karena setelahnya kau akan mengungkapkan isi hatimu juga menasehatiku

Aku suka mendengar nasehatmu
Aku selalu menantikannya

Mungkin tak selalu kupatuhi
Agar aku punya alasan untuk mendengatkannya
Lagi dan lagi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sesuap Bahagia di Pagi Hari


Bahagia itu sederhana, sesederhana rasa syukur karena memiliki waktu untuk menyiapkan makanan untuk suami tercinta, mengambilkan beberapa sendok nasi hangat yang masih mengepulkan uap, mengambilkan lauk makanan yang tidak dia jangkau, menyediakan air minumnya, dan menemaninya saat makan. Melihatnya menikmati sesuap demi sesuap makanan yang telah kumasak dengan cinta dan doa. Mungkin tak selalu enak, hanya lauk sederhana, kadang juga tak sesuai seleranya. Bagaimanapun usia pernikahan kami masih sangat singkat, kami masih saling belajar menyesuaikan. Namun, meskipun begitu makanan dipiringnya selalu habis, begitu caranya menghargai dan berterima kasih, jika suka maka Ia akan minta tambah. 

Yah, menurutku aku adalah perempuan beruntung karena memilliki banyak waktu di rumah. Saya memang mengajar di kampus, namun hanya beberapa jam dalam seminggu. Selebihnya, saya membuka kursus rumahan sehingga semua aktifitas berpusat di rumah, proses belajarnya, rapat dan pembimbingan tentornya. Yah, semua kegiatan saya hampir berpusat di rumah. Suami saya, seberapa pun sibuknya, pasti pulang untuk makan, tak pernah sekalipun dia makan di luar. Mungkin sudah bosan makan makanan warung sewaktu kuliah. 

Memilih tetap bekerja, namun tetap memiliki waktu untuk suami dan keluarga adalah sebuah anugrah bagi perempuan. Mungkin hasilnya tidak seberapa, namun bagi perempuan yang tetap bekerja setelah menikah bekerja merupakan bentuk aktualisasi diri, pengembangan ilmu, serta pengabdian untuk masyarakat. Namun, sejak menikah, tentu saja saya membatasi kegiatan, karena secara naluriah timbul perasaan tidak enak jika suami di rumah, dan saya memiliki urusan di luar rumah, walaupun tentunya saya keluar dengan izin suami. Rasanhya ingin cepat-cepat pulang saja. Rasanya kasihan saja ninggalin Dia sendiri di rumah. 

Dan yah, bagi para istri kebahagiaan sederhana itu adalah ketika menghidangkan makanan untuk sang suami tercinta. Makan bersama adalah quality time yang menghadirkan kebersamaan yang akan membuat dua hati saling terikat makin kuat. Kebiasaan kecil nan sederhana namun mampu memupuk cinta, menciptakan keajaiban, juga memahat kenangan, membawa hubungan semakin dekat, lekat dan hangat.  

Setiap suapan akan menjadi energi yang mengalir bersama darah, menjadi daging dan otot, memberi kekuatan dalam bekerja. Sebuah kekuatan yang istimewa karena berasal dari cinta dan doa, ketulusan, pengabdian dan kebahagiaan. Sebuah komposisi sempurna untuk mencari nafkah yang halal untuk keluarga, sebagai bekal menjakani hidup di dunia sebaik-baiknya untuk menuju syurga-Nya. Semoga Allah akan selalu menganugrahkan kita waktu bersama keluarga. Aamiin...

Buol, 10 Juli 2017

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Surat Cinta dan Tanda Tanya




Hai Mer, bagaimana kabarmu? Saya yakin Allah akan menjagamu dimanapun Dirimu berada, seperti mereka menjaga semua orang-orang yang kucintai, mereka yang tidak bisakujangkau lewat raga karena terpisah oleh jarak.

Sungguh senang rasanya mendapat kabar darimu, seperti kala menjumpai embun di pagi yang membasahi daun-daun. Yah, dia menjadi istimewa karena kau menuliskannya di catatan Blog sehingga korespendensi kita akan mengabadi. Entah kenapa berkomunikasi lewat tulisan selalu menjadi pilihan yang tepat, padahal sudah begitu banyak medsos, mungkin karena kesibukan, atau mungkin kita bisa mengungkapkan lebih banyak hal ketika menulis. Terlalu banyak hal-hal dan pemikiran-pemikiran yang terlintas, sehingga kita terkadang speechless.

Begitukah? Atau mungkin kita buka tipe sahabat yang suka saling mengeluhkan keadaan, kita lebih suka membagi kebahagiaan. Walaupun terkadang ia terbaca dari jarak ratusan kilometer, dan kita memutuskan untuk saling mendoakan. Mengadukannya saja pada Allah. Lalu bercerita lepas dan tanpa jeda saat kita berhasil melaluinya. Lalu saling marah dan merajuk, kenapa kita tak saling berbagi... Hahaha

Kau masih misteri, juga tentang kepergianmu, kepindahanmu. Walaupun beberapa hal telah kau ceritakan, namun masih saja ada tanya yang tersimpan, hal apa gerangan yang membawamu ke sana? Ke tempat baru itu. Nalarku menerka, pastilah itu berhubungan dengan perubahan penampilanmu, juga keimananmu yang semakin kokoh bukan?

Tentang kabarku, aku bahagia Mer, seperti yang kau tau, bahagia itu tak perlu dicari tapi dia diciptakan, dan Laut-Ku telah menciptakan kebahagiaan untukku, walaupun sungguh dia jauh lebih misteri, dan aku masih menyelami keindahannya, walau terkadang terluka oleh karang atau terhempas oleh ombak. Namun, begitulah laut dia adalah tempat yang paling netral, tempat segala hal bertemu, sehingga luka dan hempasan akan lenyap, laut memurnikan segalanya. Pada akhirnya, tangisan karena berbagai penyesuaian membuatku semakin kokoh, seperti kepompong yang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu.

Di sini, aku memulai segalanya dari titik awal, mencari pendar-pendar cahaya di tempat ini. Sejatinya aku kembali mencari, tapi tentu saja bukan jati diri, tetapi tempat untuk mengeksplor jati diri, karena tak kunjung mendapatkannya aku menciptakannya walaupun masih tertatih-tatih karena ilmu dan pengalaman yang masih begitu minim. Namun seperti biasa, tentunya aku tak menyerah. Karena bergerak dengan bahagia adalah cara kita mensyukuri apa yang telah Allah titipkan.

Dengan begitu banyak hal yang telah dianugrahkan karena cinta-Nya pada hamba-Nya, juga Imam yang selalu mendukung setiap keputusanku, membantuku membangun setiap mimpi-mimpi. Menyusun hari bersama dengan peran-peran baru. Mencoba menyeimbangkan segala sisi. Berusaha agar tidak terjebak pada zona nyaman. Maka doa senantiasa hadir pada awal, proses perjalanan juga akhir, doa kepada Sang Pembolak-Balik hati agar selalu menuntun dan menetapkan hati ini pada Agama-Nya, menjadikan setiap ilmu menjadi manfaat. Walaupun, dengan Iman yang bagaikan roller coster, terkadang hati ini masih sangat bandel menerima dan mendebat hukum-hukum yang telah ditetapkanNya. 

Oh yah Mer, bulan ini aku akan menemuimu, seminggu selepas purnama. Berjanjilah untuk menceritakan hal-hal yang menjadi tanda tanya dikepalaku tentangmu yang membolang jauh ke sana. Kau juga harus menyiapkan waktu khusus mengajakku jalan-jalan walaupun sekadar ke Taman Raya dan Istana ataupun Masjid Raya , karena entah kapan kita akan bersua kembali. Sampai jumpa di kota Hujan "My Merry Girl".


Buol, 9 Juli 2017



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menemukan Kembali Ritme Hidup



Tak peduli berapa kalipun kita merasa hilang, yang terpenting adalah, lagi kita menemukan jalan untuk kembali melanjutkan langkah. Menemukan kembali ritme hidup. Seperti yang kurasakan satu tahun belakangan ini, tentang tulisanku yang begitu jarang kau jumpai selain beberapa puisi yang tercipta karena memang aku tak pernah bisa berhenti menulis. Merenungi setiap hal terjadi, sebuah ritme baru mengisi relung hidupku, sebuah peran bernama istri, sebuah babak baru yang bernama pernikahan yang sungguh begitu berbeda, juga dipenuhi kejutan demi kejutan yang indah dan harus dimaknai dengan kebahagiaan, yang setiap pahit dan manisnya, adalah rasa baru yang penuh dengan penalaman baru dan pelajaran berharga.
  
Jodoh, kisah hidup dan percintaan yang sesungguhnya selalu jauh melebihi segala hal yang pernah kita baca dalam novel. Perjodohanku dengan kekasihku mengantarkanku pada kehidupan yang benar-benar baru, setelah menyelesaikan s2, saya akhirnya memenuhi kewajiban untuk membersamai sang kekasih di sebuah kota yang tidak pernah terbanyangkan sebelumnya, bahkan namanya tak pernah aku dengar sebelumnya Buol, Sulawesi Tengah, meninggalkan semua hal di tempat kelahiran, di kampung halaman, meninggalkan rumah, teman-teman, orang-orang terkasih, sanak saudara, orang tua, akh, sesak rasanya dada ini. Namun, kewajiban jauh lebih penting ketimbang perasaan-perasaan, selalu ada konsekuensi dari setiap peran baru yang telah kau dapatkan. 

Jodoh,oh jodoh, sungguh tak tertebak, dan di sinilah aku sekarang melanjutkan kembali mimpi-mimpi yang tertunda karena mengalami shock culture, yah berada di kota baru nan asing, walaupun belum berpindah pulau, masih di Sulawesi namun semua begitu berbeda, di tambah minim pengalaman tinggal di kampung orang jadilah aku merasa sendiri dan terasing di kota ini. Memang, selama tujuh tahun, saya melanjutkan sekolah di Makassar, namun Makassar adalah kota kedua, masih di Sulawesi Selatan, banyak sanak saudara, bahasa lokal yang saya mengerti, dan kampus yang mempertemukan saya dengan begitu banyak orang-orang keren dan memberikan begitu banyak kesempatan untuk berprestasi tentu saja menjadikan Makassar adalah kota yang sulit untuk ditinggalkan.

Di sini, di kota Buol, saya hanya punya satu sepupu yang juga tidak bisa selalu menemani saya karena, dia juga sudah berkeluarga dan juga bekerja di salah satu kantor pemerintah. Di tambah dengan bahasa yang tidak saya mengerti sedikitpun, membuat saya merasa hilang, tanpa teman, tanpa komunitas, tanpa aktivitas dakwah, tanpa tau di mana saya harus pergi, pun saya tidak mungkin bepergian sendiri jika suami sedang pergi kerja. Maka, tiga bulan ke dua berada di kota Buol adalah masa-masa paling sulit. Termasuk untuk sang suami yang harus ekstra sabar menghadapi istrinya yang mengalami shock culture, tak jarang dia pulang dan mendapati saya telah berlinang air mata. Jadi bukannya dihibur oleh istri sepulang kerja, dalam keadaan capek dia yang harus menenangkan saya. Terkadang dia juga harus terpaksa pulang tiba-tiba karena saya merasa kesepian. Mertua saya juga hanya beberapa hari di rumah, karena dia memiliki usaha di tempat ayah mertua bekerja, di perusahaan kelapa sawit. Mama hanya pulang saat terima gaji, lalu kembali. Dan tinggallah hanya kami berdua di rumah. Alhamdulillah, ada hp, namun pertemuan di dunia maya dan nyata tetap saja berbeda dan tidak dapat tergantikan.

Alhamdulillah, akhirnya curhat-curhat dan doa-doa yang saya panjatkan ada Allah dengan linangan air mata, terjawab di bulan-bulan berikutnya saya mulai belajar banyak tentang kota ini, tentang orang-orangnya, tentang temat-tempatnya, kuliner, dan segala hal. Waktu akan mengobati segalanya, dan di sinilah saya sekarang melanjutkan mimpi di kota Buol yang indah dengan pantai-pantainya di sepanjang jalan, juga pulau-pulau eksotis yang belum terjamah. Kuliner yang unik nan merakyat dengan rasa yang nikmat, ambal yang biasa saya sebut pizza Buol.  

Enam bulan setelah tinggal di Buol, saya sudah mulai mengajar di salah satu kampus, walaupun hanya dua kali seminggu karena mata kuliah bahasa inggris hanya mata kuliah umum. Setelah hampir satu tahun mengajar akhirnya saya mampu membaca keadaan. Setelah melewati masa-masa sulit, merasa hilang, kini saya menemukan kembali ritme hidup. Kini saya membuka usaha kursus bahasa inggris, mahasiswa saya bimbing untuk menjadi tentor, membuat mereka lebih produktif. Saya juga telah membentuk komunitas untuk mengembangkan hal-hal positif dalam diri anak-anak muda Buol, saya ingin keberadaan saya menjadi bermanfaat. Saya akhirnya menemukan hal-hal baru yang tidak saya dapatkan di Bone dan Makassar yang sudah sangat berkembang.
Di Buol, perkembangan kota ini hanya berpusat pada sektor ekonomi, namun pendidikan sungguh sangat tertinggal dengan selatan, terlebih Buol yang hanya kabupaten, memang sudah ada beberapa kampus, STIE, STISIPOL, dan STIP namun kegiatan kepemudaannya begitu minim, beberapa organisasi seperti HMI memng sudah ada, namun dari yang saya dengar dari mahasiswa, kegiatannya hanya berupa perekrutan, dan setelahnya minim follow up. Kegiatan literasi apa lagi, perpustakaan kota begitu memprihatinkan, merurut petugasnya, ini dikarenakan kator barunya sementara dibangun, sedang toko bukunya hanya terselip dalam usaha percetakan dan fotocopy. 

Maka, inilah saatnya saya menerapkan ilmu yang bertahun-tahun saya geluti, di kehidupan nyata, membangun dan membuka wawasan anak muda dan mahasiswa, membawa memperkenalkan mereka pada dakwah islam juga tentang buku-buku, tentang puisi, yang membuat dunia menjadi begitu berbeda. Alhamdulillah, mengajak Mahasiswa untuk bergabung menjadi jauh lebih mudah ketimbang di Makasar dan di Bone yang mahasiswanya punya puluhan pilihan untuk menghabiskan waktunya di organisasi mana. Juga dalam bidang pendidikan, bisnis kursusan hanya terhitung beberapa jari membuat saya lebih mudah mendapatkan siswa. 

Dan yah, mimpi kembali berlanjut, walaupun awalnya begitu sulit, namun akhinya saya kembali menemukan ritme hidup berkat dukungan suami dan mertua yang menguatkan langkah saya. Juga doa orang tua dan sahabat-sahabat. Selalu ada hikmah di balik semuanya, selalu ada hadiah kejutan bagi orang-orang yang bersabar dan berkorban demi kewajiban utama, yaitu sebagai seorang istri. Karena ridho Allah adalah hal yang paling utama. Semoga Allah menyertai kita diamanapun berada… Semoga kita bisa selalu bermanfaat di setiap tempat yang kita kunjungi. Suatu saat mungkin kita akan kembali bingung, hilang langkah, lagi-dan lagi, namun tak peduli berapa kalipun kita merasa hilang, yang terpenting adalah bangkit kembali, menemukan jalan menuju cahaya.

Buol, di pagi yang cerah 26 Mei 2017

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menunggu dengan Bahagia

Peran yang baru dalam hidup akan selalu membuat doa-doa semakin bertambah, harapan-harapan semakin subur, usaha dan kerja keras akan semakin meningkat, semua berbanding lurus dengan penantian-penantian yang akan semakin menguras waktu, karena sedang menunggu giliran untuk segera terwujud.

Terlebih menjadi seorang istri, sebuah peran yang sungguh luar biasa. Aku kembali tersadar, untuk kesekian kalinya saat meliat wajah pulas suamiku yang jatuh tertidur karena kelelahan. Udara kesyukuran memenuhi rongga dadaku, air mata ketakziman membasahi pipiku, bahwa Allah telah mempertemukanku dengan lelaki yang akan menemaniku menuju Syurga-Nya, pertemuan yang telah tercatat tiga ribu tahun sebelumnya dalam Lauh Madfuz, sebuah kitab yang berisi takdir manusia. 

Yah, menatap wajahnya lekat-lekat, mengecup keningnya perlahan-lahan, lalu mengusap rambutnya dengan lembut sambil membacakan Al-fatihah, doa penyabar, juga harapan-harapan tentangnya. Menyesali setiap bantahan, mengutuk setiap keluhan yang seharusnya tak kualamatkan padanya walaupun hanya dalam hati. Merenung, lalu menyimpulkan bahwa menjadi patuh tidak hanya membutuhkan cinta dan pemahaman, namun juga kesabaran yang harusnya selalu ditumbuhkan dengan keyakinan bahwa pasangan kita bukanlah Nabi yang sempurna, kalaulah kita menyandingkan kebaikan, pengorbanan, cinta dan kesabaran suami dalam menghadapi kita, istrinya, sungguh sebagai istri alangkah pongahnya kita jika kita tidak menjadi bersabar. Namun bersabar dengan tulus dan menjadi patuh tak semudah mengedipkan mata.

Bersabar bukan berarti menjadi lemah, bersabar adalah bahasa sejatinya cinta, jika ia disertai dengan kesungguhan untuk berusaha menjadi istri yang terbaik, dan istri yang terbaik adalah istri soleha. Dan sungguh pahalanya juga tidak tanggung-tanggung, kita dapat memilih pintu syurga manapun yang kita mau. Seperti sabda Rasulullah, shallallahu'alaihi wasallam

Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya; niscaya akan dikatakan padanya: “Masuklah ke dalam surga dari pintu manapun yang kau mau”. (HR. Ahmad dari Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany).

Sungguh tidak mudah menjalankan biduk rumah tangga. Walaupun dua jiwa telah dijadikan satu, namun sejatinya kita memang berbeda, menyatukan dua kepala bukan perkara yang mudah, butuh waktu, penyesuaian, juga ilmu. Suami tak selalu harus sejalan dengan pikiran sang Istri, suami malah akan salah jika menuruti semua permintaa istri, pun sebaliknya. Maka sungguh kesadaran akan pentingnya saling membersamai, menasehati, menyayangi dan juga menghormati sebagai pasangan hidup dalam perjalanan menuju ridho dan syurga-Nya adalah kata-kata kunci yang selalu diigat dan realisasikan agar bahtera rumah tangga tetap tangguh melaju di tengah hantaman badai dan gelombang. 

Pasangan kita bukanlah seorang yang sempurna, dalam beberapa hal mungkin seorang istri lebih hebat dari pada sang suami, namun hal tersebut janganlah membuat istri menjadi besar hati lalu jumawa, karena lelaki telah diberikan kelebihan beberapa derajat oleh Allah, dan para istri harus mengakui hal tersebut, bahwa suami kita jauh berada di atas kita dalam berbagai hal, jauh di atas kehebatan yang kita sangka. 

Allah Berfirman:
"Para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya...." (Al-Baqarah: 228).
"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (Laki-laki) atas sebagian yang lain (Wanita), dan karena mereka (Laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...." (An-Nisa': 34).

Yah, kita dan pasangan adalah dua jiwa dan pikiran yang telah menyatu, dalam proses pendewasaan dan memiliki celah masing-masing. Keberadaan pasangan adalah untuk melengkapi celah, saling menutupi dengan kelebihan masing-masing. Setelah pernikahan akan begitu banyak harapan dan angan yang akan kita bayangkan ada pada pasangan. Namun, perubahan membutuhkan waktu, sehingga terkadang kekecewaan datang dan menjadi udara kering yang menampar harapan. Harapan tentu saja harus selalu bertumbuh, hanya saja kita membutuhkan waktu, bukankah hidup memang tentang menunggu.

Yah, menunggu bukan hanya milik yang seseorang yang sedang menanti jodohnya. Bahkan setelah penantian berakhir karena menemukannya, penantian-penantian baru akan jauh lebih banyak, kita aka menunggu lebih lama. Akhirnya setelah sekian lama, saya mengerti tentang ungkapan yang menyatakan bahwa hidup adalah tentang menunggu. Dan dalam penantian tersebut harusnya kita menikmati tiap menit bahkan tiap detiknya, karena, bahagia bukan hanya tercipta pada saat menuai harapan menjadi nyata, namun sejatinya pada setiap waktu yang telah dianugerahkan pada kita.

Mungkin seperti menunggu kedatangan suami sepulang kerja. Tak perlu kita terlalu risau dan galau jika suami terlambat pulang. Dalam penantian, biasakan bibir kita selalu basah dengan doa untuk keselamatan suami tercinta, juga menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas yang bermanfaat dan membuat kita bahagia, tak lupa mempersiapkan kedatangannya dengan riang serta menyambutnya dengan senyum merekah agar lelah sang kekasih menguap berganti ketenangan dan bunga-bunga cinta.

Yakinlah selalu bahwa keberadaan kita adalah sebagai seorang partner hidup yang ditugaskan membantunya dengan cinta, mengubah hal-hal negatif dalam dirinya dengan kasih sayang dan kesabaran yang dipupuk dengan keyakinan bahwa keberadaan kita akan membawanya menuju syurga. Ingatlah selalu kebaikan-kebaikan pasangan. Kesabarannya yang tak bertepi menerima semua kekurangan kita yang tidak pernah dilihat dan dimengerti orang lain, keberadaannya yang selalu menyediakan dada yang lapang juga bahu yang kuat untuk kita bersandar dan berkeluh-kesah,  dengan keyakinannya bahwa dia akan mampu mengantarkan istrinya menuju Syurga...  
..... mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka... (QS. Al-Baqarah:187)



Buol, 5 Mei 2017

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Merayakan Aksara dalam Dekapan Keindahan Banggai




Luwuk, saya telah lama mendengar nama kota ini, adalah ibukota kabupaten Banggai Sulawesi Tengah. Beberapa sanak saudara saya, merantau dan akhirnya menetap di sana, pun mertua saya pernah menetap beberapa tahun di salah satu kacamatan di Banggai. Setiap mereka pulang ke kampung halaman, oleh-oleh berupa ikan asin dan cumi kering menjadi makanan yang selalu kami tunggu, hal tersebut membuktikan bahwa potensi kekayaan bahari Banggai begitu melimpah. Hal ini tak mengherankan karena sebagaian besar wilayahnya merupakan lautan yaitu sekitar 20.309,68 km2 dengan garis pantai sepanjang 613,25 km2, tentu saja menyimpan kekayaan bahari yang berlimpah.  Tidak hanya itu wilayah daratanya dengan luas 9.672,70 km2, dengan keanekaragaman tipografi berupa pegunungan, perbukitan dan dataran randah. Tanahnya menyimpan kesuburan, berbagai buah-buahan dapat tumbuh subur ranum. Bulan kemarin saya bahkan mendapat kiriman buah naga dan salak yang sangat manis dari saudara di Luwuk

Dari segi aksesibilitas menuju kota Luwuk, dapat ditempuh melalui semua jalur, baik transportasi darat, laut maupun udara. Dari ibu kota provinsi Palu, kota Luwuk dapat ditempuh melalui jalur darat sekitar 610 km dengan bus, ataupun kendaraan carteran. Bagi yang ingin perjalanan singkat dapat memilih trasportasi udara dari bandara Syukuran Aminuddin Amir, kita dapat memilih salah satu dari empat perusahaan penerbangan yaitu Garuda, Sriwijaya Air, Wings Air dan Express Air yang melayani rute-rute penerbangan regular setiap hari menuju Luwuk dari Palu, Makassar dan Menado. Dan bagi yan inugin mengakses dari jalur laut, bisa naik kapal laut tujuan Makassar-Luwuk atau Bitung-Luwuk.

Jika anda mencari tempat dengan paket wisata yang lengkap, maka Luwuk-lah tempatnya sebuah surga tersembunyi di Sulawesi. Mulai dari air terjun, padang savana luas nan hijau, bukit untuk melihat keindahan Luwuk dari ketinggian, serta pesisir pantai  yang indah. Saya akan mencoba mengeksplore satu-persatu. 

Yah, salah satu keistimeaan kota Luwuk adalah akses menuju tempat wisatanya yang mudah dijangkau. Ada sekitar belasan tempat wisata alam yang beragam, mulai dari pantai yang indah, air terjun eksotik, padang savana yang luas, hingga aliran sungai dan air terjun yang bening dan segar. Bahkan kita hanya perlu menempuh 5-15 menit untuk untuk mencapai tempat wisata selanjutnya.

Mengagumi Pesona unik di Air Terjun Soladik

Ada banyak pilihan wisata air terjun, beberapa di antaranya adalah, Air Terjun Tontoan, Air terjun Batu Tikar, Air Terjun PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro). Bagi pencinta traveling Air Terjun Batu Tikar wajib anda kunjungi karena medannya cukup menantang dan hanya bisa dicapai dengan haiking sekitar 1 km, Karena rutenya tidak dapat dilalui kendaraan bermotor. Selain itu, salah satu tempat wisata favorit masyarakat Luwuk adalah Air Terjun Soladik yang terletak di Desa Soladik yang bentuknya unik, bertinkat-tingkat dari suatu undakan ke undakan lain. 

Konon airnya yang berwarna kebiruan dan juga hijau tosca ini merupakan pertemuan sumber air dari dua gunung yang menyatu dalam air terjun bertingkat. Tak terbayangkan nikmatnya bermain dan mendengarkan gemercik air dengan  nuansa alam berupa hutan hujan tropis lebat nan asri, semua penat akan lebur tergantikan dengan kesan sejuk dan segar yang menjalar ke seluruh tubuh kita.



Menikmati Keindahan Padang Rumput Savana
Saat bayang-bayang keindahan Air Terjun Soladik terbayang dengan jelas, bergeser sedikit sekitar 10 menit perjalanan, kita akan tiba di Desa Lenyek dan akan kembali terpukau dengan keindahan padang rumput savana yang terhampar bagai karpet raksasa alami yang lapang dan luas, dengan latar perbukitan. Jika ingin mendapatkan kesan tak terlupakan, datanglah pada pagi hari, kilauan mentari pagi keemasan dari ufuk timur menyembul dari balik perbukitan berpadu dengan padang rumput luas, serta ditemani sapi-sapi yang merumput dengan tenang. Jadi tak perlu jauh-jauh ke New Zeland atau Amerika untuk menikmati pemandangan hijaunya padang rumput, silahkan berkunjung ke salah satu padang rumput terbaik di Indonesia,Desa Lenyek, Kecamatan Soladik, Luwuk, Banggai.


Romantisme Malam di Bukit Keles
Menjelajahi Luwuk rasanya tidak mengenal batas waktu, tidak hanya siang, pada malam harinya berkunjunglah ke Bukit Keles atau biasa juga disebut bukit kasih sayang. Dari atas  bukit kita akan tersihir oleh pemandangan seluruh kota Luwuk yang dikelilingi laut dan diapit perbukitan menjadi gemerlap bintang-bintang yang berkelap kelip layaknya malam di Kota Hongkong. Di bukit inilah setiap malamnya muda mudi ramai berkumpul menikmati gemerlap yang berasal dari lampu-lampu kota dan pelabukan ferry yang romantis sambil menikmati kudapan khas Luwuk, ada saraba, pisang kobe dan lopis.




Eksotisme Matahari Terbit dan Tenggelam di Pantai Kilo Lima
Bagi pecinta wisata bahari, tepat di jalur Trans Sulawesi kita akan menjumpai pesona Pantai Kilo Lima, yang nama uniknya ini berasal dari jaraknya yang hanya terletak 5 km dari di pinggiran kota sehingga sangat mudah dicapai dari arah mana saja. Keindahan panorama lepas pantainya sangat luar biasa ditambah dengan pemandangan bawah laut dengan keanekaragamannya membuat lokasi wisata ini menjadi pilihan utama para wisatawan. Hamparan pasir yang putih yang lembut, air laut yang jernih, serta kejaran ombak yang menghempas pantai akan membuat pengunjung menjadi betah berlama-lama di pantai ini. Pada pagi hari saat langit sedang cerah bersahabat, pemandangan cahaya keemasan matahari terbit berpadu dangan putihnya pantai serta jernihnya air laut membuat keindahan pantai ini begitu eksotik. 


Merasakan Surga Bawah Laut di Tinapalu
Pulau Tinalapu, sebuah pulau kecil yang hanya membutuhkan waktu 1 menit untuk mengelilinginya. Yah pulaunya memang kecil kira-kira hanya setengah lapangan bola, namun keindahan alam bawah laut yang tersembunyi di pulau kecil ini sungguh luar biasa. Pasir yang amat halus akan membuat kaki anda nyaman untuk berjalan kesana kemari. Jika telah menceburkan diri di laut kita akan disambut oleh ikan tropis dengan berbagai warna dan corak, juga hutan coral yan sehat dan subur.  Spot taman bawah laut di pulau ini pun termasuk dangkal dengan kedalaman yang berfariasi, bahkan ada yang hanya semata kaki. Jadi tunggu apa lagi, cukup menempuh 2 jam perjalanan dari Luwuk ke Pagimana dengan menyewa Boat yang memakan waktu 30-45 menit, maka anda akan menemukan sebuah surga bawah laut.



Begitulah, Sulawesi Tengah, kabupaten Banggai sebuah kabupaten yang menawarkan berjuta pesona yang tidak ada habisnya. Beberapa tempat di atas hanya beberapa wisata unggulan di Luwuk namum masih banyak lagi tempat wisata yang belum diulas. Daya tarik sebuah kota, tidak hanya dilhat dari sekedar keindahannya saja, namun sejarah, keramahan masyarakat serta semua potensi yang terjalin akan menghadirkan daya magis tersendiri. Baru-baru ini kita mendengar Sulawesi Tengah sukses menggelar Sail Tomini, yang sukses diadakan dan telah menarik ribuan wisatawan untuk datang. 

Saat ini, Banggai sedang berbenah, mencoba menghidupkan sebuah sejarah literasi, membentuk sebuah ikon baru menjadikan Luwuk kota aksara melalui sebuah festival sastra yang rasanya mendengarnya saja telah membawa semangat kebahagiaan dan debar-debar yang berdesir di hati. Apalagi membayangkan tempatnya yang begitu istimewa dan penuh pesona.

 Ini adalah kali pertama, kegiatan literasi akbar diadakan di Sulawesi Tengah, di Indonsia timur selama ini kegiatan literasi hanya terdengar di Sulawesi Selatan. Memang sudah saatnya semangat literasi tumbuh di semua tempat. Dengan adanya Festival Sastra Banggai (FBS) ini yang mengangkat tema Rayakan Kata, Bumikan Ilmu ini diharapkan semua potensi khususnya potensi literasi masyarakat Banggai akan dapat digali dan menjadi semangat untuk terus disebarkan ke seluruh penjuru Indonesia.

Saya sudah tidak sabar membayangkan bersua dengan penulis-penulis dan tokoh-tokoh sastra Indonesia di sebuah tempat yang begitu istimewa. Di sebuah kota yang dikelilingi oleh pantai dan laut biru serta diapit oleh bukit-bukit yang menghamparkan padang savana dan air terjun eksotik. Saya yakin, keindahan Luwuk akan segera terekam dalam aksara dan mengabadi.


Saya berharap dapat berpartisipasi dalam festival sastra kali ini. Tidak dapat disangkal bahwa jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia kegiatan literasi di Sulawesi Tengah, masih jauh tertinggal. Penulis merasakan sendiri betapa gersangnya geliat literasi di salah satu kebupaten di Sulawesi Tengah, khususnya kabupaten Buol, hampir sudah satu tahun saya menetap di kota ini, sungguh sangat memprihatinkan, saya tak menemukan sebuah toko bukupun, perpustakaan kota yang sangat kondisinya tidak layak, belum terbentuk satupun komunitas yang berbau literasi, bahkan nol kegiatan seminar untuk menularkan kegaiatan liteasi. 

Dengan adanya FBS dan lomba blok "Bangga di Banggai" saya berharap partisipasi ini sebagai langkah membangun titik tolak kebangkitan literasi agar bisa ditularkan ke segala penjuru Sulawesi Tengah, bahkan seluruh Indonesia.

Oleh
Andi Asrawaty
Seorang ibu rumah tangga, pecinta sastra dan sekarang aktif mengajar di STIE Mujahidin Toli-Toli Cab. Buol

Bahan Bacaan:
1.  www.banggaikab.go.id/home/letak-geografis/ diakses 30 Maret 2017
2. http://lodos84.blogspot.co.id/2016/12/pesona-luwuk-banggai-luwuk-adalah-salah.html diakses 30 Maret 2017
3. https://supertama.com/2015/09/24/holy-day-holiday-in-luwuk/ diakses 30 Maret 2017


#Banggai
#FBS2017
#BanggaDiBanggai  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS