RSS

Dua Perempuan Hebat



Malam ini aku kembali membuka laptop kesayanganku, laptop yang memberi sejarah tersendiri. Laptop yang telah menemani perjalanan studiku. Yang paling aku ingat, laptop ini adalah pembelian Etta, yang kuterima dengan hati yang mengembang bahagia. Bersamanya telah kutuliskan banyak kenangan, kegembiraan, kesedihan, keresahan, juga kerinduan, tentang segala hal. Dari laptop sederhana ini aku telah menyelesaikan tugas akhirku dengan keringat dan air mata, juga banyak pengorbanan. Malam ini kutuliskan potongan-potongan kata, menghangatkan tuts-tuts keyboard laptopku yang telah lama kudiamkan. Dan aku larut dengan kegembiraan dan kesedihan yang lain, lalu melupakannya. Kini aku kembali, menemaninya, mungkin sebagai rasa terima kasih, juga ungkapan rindu. Telah lama juga, aku tidak menjalin kata bersamanya. Aku akan memulainya dengan menceritakan dua perempuan hebat dalam hidupku.
Akan kuawali kisahnya dengan berbagi kisah tentang kehidupanku yang baru setelah menikah, di sebuah kota asing, bahkan namanya tak pernah kudengar sekalipu, kota Buol, dengan orang-orang baru, logat yang berbeda, makanan yang berbeda, hah semuanya berbeda. Namun, ada yang tidak berbeda, harapan dan keyakinan yang sama membawaku ke sini, bersama doa orang-orang yang kucintai di seberang langit Selatan, kota bernama Bone, tempat kelahiranku bersama wajah-wajah yang begitu aku cintai, juga Makassar, kota di mana aku mengenyam pendidikan, merasakan manisnya madu pendidikan. 

Saat ini, aku merasakan aroma baru setiap bangun pagi. Bahkan saat hujan tiba, entah merasa aku merasa selalu ada yang aneh, mungkin khawatir atau gelisah. Tak bisa kusebutkan perasaan itu. Jelasnya, saat minggu-minggu pertama aku merasakan, setiap hujan tiba ada perasaan takut, ada perasaan yang muncul, seperti aku melupakan sesuatu di bawah hujan, entah apa dan aku takut sesuatu itu kehujanan. Perasaan yang aneh, namun sejalan waktu, walaupun aku masih dapat merasakan perasaan itu, namun dia telah menghilang, sedikit demi sedikit. Hujan tetap sama, aku akan kembali menyukainya walau ia membawa hawa dingin yang kadang-kadang membuat nafasku sesak. Yah, lambat laun mungkin itu adalah perasaan yang muncul jika kita berada di tempat yang berbeda, suasana yang lain, semacam perasaan untuk beradaptasi mungkin. Kini, perasaan itu hampir pudar karena kehangatan rumah ini, ada mama yang begitu sabar mengajariku segala hal. Di sini aku tinggal bersama mama, etta, dan suamiku. Suamiku anak bungsu, hanya dua bersaudara kakaknya perempuan yang telah berkeluarga dan memiliki rumah sendiri, yah jadilah jika Etta dan Suamiku pergi bekerja aku serasa menjadi anak tunggal. Hanya aku dan Mama. Itupun Mama dan Etta tidak selalu di rumah ini, Etta memiliki tempat tinggal di desa lain CCM, begitu aku dengar sebuah perusahaan kelapa sawit, Etta dan Mama mendirikan koprasi di sana, makanya mereka lebih sering di sana, namun jika hari libur dan telah terima gaji dan saat-saat tertentu mama dan Etta pulang ke rumah ini.  

Yah, Mama, perempuan yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan suamiku. Perempuan keren, mama mertua gaul dan baik hati. Mama dengan senang hati mengajariku memasak, juga segala hal hingga remeh temeh. Mama sabar, juga memberitahuku dengan halus juga jenaka tentang hal-hal salah yang kulakukan, yah mama orangnya sangat humoris, berbeda dengan ummi yang kata-katanya dipenuhi kata-kata mutiara. Oh yah aku tidak bisa membandingkan antara mama dan Ummi, mereka memiliki kekerenannya masing-masing. Yah, aku memang belum memiliki kemampuan masak yang mumpuni. Anggap saja ada beberapa alasan pembelaan sehingga aku tidak begitu lincah di dapur. Sejak kecil aku menderita asma, Ummi juga begitu sayang padaku, sehingga aku tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat, di rumahku juga selalu ada keluarga perempuan yang tinggal untuk bersekolah, sehingga aku tinggal tahu semuanya beres. Ummi hanya mengajariku keterampilan dasar, mencuci baju, cuci piring, menyapu, masak nasi, masak ikan, dan sayur. Hanya itu, beranjak sekolah ke Makassar, walaupun menunpang di rumah Om, aku pun tak pernah memasak selain membantu memotong-motong sayuran di dapur, karena Om memiliki warung makan, jadi makanan telah tersedia. Dan sampai aku menikah, aku hanya ingat, hanya bisa memasak sayur bening, dan capcai. Memasak ikan masak dan menggoreng ikan, itupun aku sangat takut menggoreng ikan, di tambah lagi, semuanya aku lakukan dengan slow motion kata mertuaku, hehe.

Namun, sungguh Allah menyayangiku, aku mendapatkan mertua yang baik, yang sangat sabar mengajariku memasak. Sungguh, budaya masak yang sangat berbeda. Mulai dari pemilihan ikan saat berbelanja ke pasar, tempat membeli sayur serta rempat yang murah, cara menjaga kebersihan rumah, sampai cara mengulek. Tapi sungguh ajaran Ummi yang begitu berharga adalah dasar keimanan yang kuat, tatakrama dan sopan santun, juga cara membawa diri terhadap suami, mertua bahkan lingkungan. Yah, mungkin Ummi tidak terlalu banyak mengajariku masak dan lain-lain karena keterampilan itu dapat dipelajari, namun keterampilan hidup yang telah Ummi ajarkan dengan sabar dan ikhlas adalah bekal yang sangat langka, yang tidak bisa dipelajari dengan instan yang telah ummi tanamkan bahkan sejak aku masih dalam rahimnya. I love you Ummi, I love you Mama, semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan serta kebahagiaan kepada kalian, agar kami anak-anakmu terus saling melengkapi dalam menjalani rumah tangga dengan restu kalian, dan membawa kebahagian untuk kalian.   

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dua Perempuan Hebat



Malam ini aku kembali membuka laptop kesayanganku, laptop yang memberi sejarah tersendiri. Laptop yang telah menemani perjalanan studiku. Yang paling aku ingat, laptop ini adalah pembelian Etta, yang kuterima dengan hati yang mengembang bahagia. Bersamanya telah kutuliskan banyak kenangan, kegembiraan, kesedihan, keresahan, juga kerinduan, tentang segala hal. Dari laptop sederhana ini aku telah menyelesaikan tugas akhirku dengan keringat dan air mata, juga banyak pengorbanan. Malam ini kutuliskan potongan-potongan kata, menghangatkan tuts-tuts keyboard laptopku yang telah lama kudiamkan. Dan aku larut dengan kegembiraan dan kesedihan yang lain, lalu melupakannya. Kini aku kembali, menemaninya, mungkin sebagai rasa terima kasih, juga ungkapan rindu. Telah lama juga, aku tidak menjalin kata bersamanya. Aku akan memulainya dengan menceritakan dua perempuan hebat dalam hidupku.
Akan kuawali kisahnya dengan berbagi kisah tentang kehidupanku yang baru setelah menikah, di sebuah kota asing, bahkan namanya tak pernah kudengar sekalipu, kota Buol, dengan orang-orang baru, logat yang berbeda, makanan yang berbeda, hah semuanya berbeda. Namun, ada yang tidak berbeda, harapan dan keyakinan yang sama membawaku ke sini, bersama doa orang-orang yang kucintai di seberang langit Selatan, kota bernama Bone, tempat kelahiranku bersama wajah-wajah yang begitu aku cintai, juga Makassar, kota di mana aku mengenyam pendidikan, merasakan manisnya madu pendidikan. 

Saat ini, aku merasakan aroma baru setiap bangun pagi. Bahkan saat hujan tiba, entah merasa aku merasa selalu ada yang aneh, mungkin khawatir atau gelisah. Tak bisa kusebutkan perasaan itu. Jelasnya, saat minggu-minggu pertama aku merasakan, setiap hujan tiba ada perasaan takut, ada perasaan yang muncul, seperti aku melupakan sesuatu di bawah hujan, entah apa dan aku takut sesuatu itu kehujanan. Perasaan yang aneh, namun sejalan waktu, walaupun aku masih dapat merasakan perasaan itu, namun dia telah menghilang, sedikit demi sedikit. Hujan tetap sama, aku akan kembali menyukainya walau ia membawa hawa dingin yang kadang-kadang membuat nafasku sesak. Yah, lambat laun mungkin itu adalah perasaan yang muncul jika kita berada di tempat yang berbeda, suasana yang lain, semacam perasaan untuk beradaptasi mungkin. Kini, perasaan itu hampir pudar karena kehangatan rumah ini, ada mama yang begitu sabar mengajariku segala hal. Di sini aku tinggal bersama mama, etta, dan suamiku. Suamiku anak bungsu, hanya dua bersaudara kakaknya perempuan yang telah berkeluarga dan memiliki rumah sendiri, yah jadilah jika Etta dan Suamiku pergi bekerja aku serasa menjadi anak tunggal. Hanya aku dan Mama. Itupun Mama dan Etta tidak selalu di rumah ini, Etta memiliki tempat tinggal di desa lain CCM, begitu aku dengar sebuah perusahaan kelapa sawit, Etta dan Mama mendirikan koprasi di sana, makanya mereka lebih sering di sana, namun jika hari libur dan telah terima gaji dan saat-saat tertentu mama dan Etta pulang ke rumah ini.  

Yah, Mama, perempuan yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan suamiku. Perempuan keren, mama mertua gaul dan baik hati. Mama dengan senang hati mengajariku memasak, juga segala hal hingga remeh temeh. Mama sabar, juga memberitahuku dengan halus juga jenaka tentang hal-hal salah yang kulakukan, yah mama orangnya sangat humoris, berbeda dengan ummi yang kata-katanya dipenuhi kata-kata mutiara. Oh yah aku tidak bisa membandingkan antara mama dan Ummi, mereka memiliki kekerenannya masing-masing. Yah, aku memang belum memiliki kemampuan masak yang mumpuni. Anggap saja ada beberapa alasan pembelaan sehingga aku tidak begitu lincah di dapur. Sejak kecil aku menderita asma, Ummi juga begitu sayang padaku, sehingga aku tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat, di rumahku juga selalu ada keluarga perempuan yang tinggal untuk bersekolah, sehingga aku tinggal tahu semuanya beres. Ummi hanya mengajariku keterampilan dasar, mencuci baju, cuci piring, menyapu, masak nasi, masak ikan, dan sayur. Hanya itu, beranjak sekolah ke Makassar, walaupun menunpang di rumah Om, aku pun tak pernah memasak selain membantu memotong-motong sayuran di dapur, karena Om memiliki warung makan, jadi makanan telah tersedia. Dan sampai aku menikah, aku hanya ingat, hanya bisa memasak sayur bening, dan capcai. Memasak ikan masak dan menggoreng ikan, itupun aku sangat takut menggoreng ikan, di tambah lagi, semuanya aku lakukan dengan slow motion kata mertuaku, hehe.

Namun, sungguh Allah menyayangiku, aku mendapatkan mertua yang baik, yang sangat sabar mengajariku memasak. Sungguh, budaya masak yang sangat berbeda. Mulai dari pemilihan ikan saat berbelanja ke pasar, tempat membeli sayur serta rempat yang murah, cara menjaga kebersihan rumah, sampai cara mengulek. Tapi sungguh ajaran Ummi yang begitu berharga adalah dasar keimanan yang kuat, tatakrama dan sopan santun, juga cara membawa diri terhadap suami, mertua bahkan lingkungan. Yah, mungkin Ummi tidak terlalu banyak mengajariku masak dan lain-lain karena keterampilan itu dapat dipelajari, namun keterampilan hidup yang telah Ummi ajarkan dengan sabar dan ikhlas adalah bekal yang sangat langka, yang tidak bisa dipelajari dengan instan yang telah ummi tanamkan bahkan sejak aku masih dalam rahimnya. I love you Ummi, I love you Mama, semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan serta kebahagiaan kepada kalian, agar kami anak-anakmu terus saling melengkapi dalam menjalani rumah tangga dengan restu kalian, dan membawa kebahagian untuk kalian.   

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dua Perempuan Hebat



Malam ini aku kembali membuka laptop kesayanganku, laptop yang memberi sejarah tersendiri. Laptop yang telah menemani perjalanan studiku. Yang paling aku ingat, laptop ini adalah pembelian Etta, yang kuterima dengan hati yang mengembang bahagia. Bersamanya telah kutuliskan banyak kenangan, kegembiraan, kesedihan, keresahan, juga kerinduan, tentang segala hal. Dari laptop sederhana ini aku telah menyelesaikan tugas akhirku dengan keringat dan air mata, juga banyak pengorbanan. Malam ini kutuliskan potongan-potongan kata, menghangatkan tuts-tuts keyboard laptopku yang telah lama kudiamkan. Dan aku larut dengan kegembiraan dan kesedihan yang lain, lalu melupakannya. Kini aku kembali, menemaninya, mungkin sebagai rasa terima kasih, juga ungkapan rindu. Telah lama juga, aku tidak menjalin kata bersamanya. Aku akan memulainya dengan menceritakan dua perempuan hebat dalam hidupku.
Akan kuawali kisahnya dengan berbagi kisah tentang kehidupanku yang baru setelah menikah, di sebuah kota asing, bahkan namanya tak pernah kudengar sekalipu, kota Buol, dengan orang-orang baru, logat yang berbeda, makanan yang berbeda, hah semuanya berbeda. Namun, ada yang tidak berbeda, harapan dan keyakinan yang sama membawaku ke sini, bersama doa orang-orang yang kucintai di seberang langit Selatan, kota bernama Bone, tempat kelahiranku bersama wajah-wajah yang begitu aku cintai, juga Makassar, kota di mana aku mengenyam pendidikan, merasakan manisnya madu pendidikan. 

Saat ini, aku merasakan aroma baru setiap bangun pagi. Bahkan saat hujan tiba, entah merasa aku merasa selalu ada yang aneh, mungkin khawatir atau gelisah. Tak bisa kusebutkan perasaan itu. Jelasnya, saat minggu-minggu pertama aku merasakan, setiap hujan tiba ada perasaan takut, ada perasaan yang muncul, seperti aku melupakan sesuatu di bawah hujan, entah apa dan aku takut sesuatu itu kehujanan. Perasaan yang aneh, namun sejalan waktu, walaupun aku masih dapat merasakan perasaan itu, namun dia telah menghilang, sedikit demi sedikit. Hujan tetap sama, aku akan kembali menyukainya walau ia membawa hawa dingin yang kadang-kadang membuat nafasku sesak. Yah, lambat laun mungkin itu adalah perasaan yang muncul jika kita berada di tempat yang berbeda, suasana yang lain, semacam perasaan untuk beradaptasi mungkin. Kini, perasaan itu hampir pudar karena kehangatan rumah ini, ada mama yang begitu sabar mengajariku segala hal. Di sini aku tinggal bersama mama, etta, dan suamiku. Suamiku anak bungsu, hanya dua bersaudara kakaknya perempuan yang telah berkeluarga dan memiliki rumah sendiri, yah jadilah jika Etta dan Suamiku pergi bekerja aku serasa menjadi anak tunggal. Hanya aku dan Mama. Itupun Mama dan Etta tidak selalu di rumah ini, Etta memiliki tempat tinggal di desa lain CCM, begitu aku dengar sebuah perusahaan kelapa sawit, Etta dan Mama mendirikan koprasi di sana, makanya mereka lebih sering di sana, namun jika hari libur dan telah terima gaji dan saat-saat tertentu mama dan Etta pulang ke rumah ini.  

Yah, Mama, perempuan yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan suamiku. Perempuan keren, mama mertua gaul dan baik hati. Mama dengan senang hati mengajariku memasak, juga segala hal hingga remeh temeh. Mama sabar, juga memberitahuku dengan halus juga jenaka tentang hal-hal salah yang kulakukan, yah mama orangnya sangat humoris, berbeda dengan ummi yang kata-katanya dipenuhi kata-kata mutiara. Oh yah aku tidak bisa membandingkan antara mama dan Ummi, mereka memiliki kekerenannya masing-masing. Yah, aku memang belum memiliki kemampuan masak yang mumpuni. Anggap saja ada beberapa alasan pembelaan sehingga aku tidak begitu lincah di dapur. Sejak kecil aku menderita asma, Ummi juga begitu sayang padaku, sehingga aku tidak pernah melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat, di rumahku juga selalu ada keluarga perempuan yang tinggal untuk bersekolah, sehingga aku tinggal tahu semuanya beres. Ummi hanya mengajariku keterampilan dasar, mencuci baju, cuci piring, menyapu, masak nasi, masak ikan, dan sayur. Hanya itu, beranjak sekolah ke Makassar, walaupun menunpang di rumah Om, aku pun tak pernah memasak selain membantu memotong-motong sayuran di dapur, karena Om memiliki warung makan, jadi makanan telah tersedia. Dan sampai aku menikah, aku hanya ingat, hanya bisa memasak sayur bening, dan capcai. Memasak ikan masak dan menggoreng ikan, itupun aku sangat takut menggoreng ikan, di tambah lagi, semuanya aku lakukan dengan slow motion kata mertuaku, hehe.

Namun, sungguh Allah menyayangiku, aku mendapatkan mertua yang baik, yang sangat sabar mengajariku memasak. Sungguh, budaya masak yang sangat berbeda. Mulai dari pemilihan ikan saat berbelanja ke pasar, tempat membeli sayur serta rempat yang murah, cara menjaga kebersihan rumah, sampai cara mengulek. Tapi sungguh ajaran Ummi yang begitu berharga adalah dasar keimanan yang kuat, tatakrama dan sopan santun, juga cara membawa diri terhadap suami, mertua bahkan lingkungan. Yah, mungkin Ummi tidak terlalu banyak mengajariku masak dan lain-lain karena keterampilan itu dapat dipelajari, namun keterampilan hidup yang telah Ummi ajarkan dengan sabar dan ikhlas adalah bekal yang sangat langka, yang tidak bisa dipelajari dengan instan yang telah ummi tanamkan bahkan sejak aku masih dalam rahimnya. I love you Ummi, I love you Mama, semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan serta kebahagiaan kepada kalian, agar kami anak-anakmu terus saling melengkapi dalam menjalani rumah tangga dengan restu kalian, dan membawa kebahagian untuk kalian.   

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pertengkaran Kita

Pertengkaran adalah cara membuat kita untuk menjadi dewasa.
Sebenarnya bukan pertengkaran, itu adalah proses untuk saling mengenal, bertukar pikiran dan mengungkapkan emosi jiwa.

Setelah bertengkar kita akan tahu pikiran masing-masing karena tak selamanya kita mampu membaca hati yang dalamnya melebihi lautan, juga menerka pikiran yang tingginya bahkan melewati langit.

Mungkin solusi yang akhirnya hadir dan jawaban yang terungkap tak selalu sesuai dengan keinginan. Namun, di sana akan ada kelegaan yang membawa cahaya yang menuntun menuju langkah selanjutnya.

Karena pertengkaran adalah salah satu bahasa cinta jika kita dapat memegang kendali, tidak melampiaskan emosi yang berlebih. Juga mengalah saat salah satu telah menggenggam bara. Jangan sesekali membiarkan pertengkaran usai tanpa perdamaian juga cinta yang semakin merekah.

Yah, setelahnya aku paham begitu banyak pengorbanan yang telah kau lakukan untuku dan perempuan selalu memiliki tuntutan yang lebih. Dan pertengkaran membuat cinta kita semakin gurih.

Mungkin akan ada seribu pertengkaran lagi, karena berjuta perbedaan di antara kita, namun bukankah ada milyaran cinta yang mampu melerainya. 😂

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Untukmu

Akhirnya kisah Cinta dan Rangga sampai pada malam ini saja, yah akhirnya kisahnya terakhir bahagia. Kisahnya sangat biasa menurutku, sangat klise, peremuan tiba-tiba yang tidak tepat namun belum terlambat, dan akhirnya bersama. Tidak ada lagi yang tertinggal dari film AADC selain penggambaran tempat dan budaya jogya yang romantis, puisi Kak Aan yang kedengaran sangat puitis karena dibacakan oleh suara Rangga, dan juga ingatan tentang dirimu, Sayangku yang membuatku menjadi baper, dan tiba-tiba ingin menulis.

***

Seperti langit yang tak bisa menjadi laut,
Aku tak perlu menyamakanmu dengan Rangga yang puitis
Apalagi membandingkanmu dengan Kapten Shi-jin yang romantis dan sedang digilai para fans garis keras pecinta drakor

Seperti langit dibutuhkan oleh bumi
Juga gerimis yang dirindukan pelangi yang menjadikannya ada

Kau adalah dirimu sendiri
Yang tak perlu kudeskripsikan
Kau adalah dirimu yang berbeda dengan siapapun
Cukup kau menjadi dirimu sendiri
Karena aku tak butuh banyak alasan untuk mencintaimu
Kau dengan dirimu adalah nyawa yang dititipkan oleh-Nya menjadi milikku

Kita pernah terpisahkan seumur bilangan angka kelahiran kita
Terpisah jarak, waktu, tempat
Lalu pada akhirnya ada penghubung yang mengisap kita di sebuah lorong waktu, dan Kau dengan teguh mengucap ikrar yang mempersatukan kita dengan nama-Nya
Karena itu, semoga tak ada lagi perpisahan

Jarak yang memisahlan darat dengan lautan
Semoga tidak akan pernah cukup mencipta jarak antara hati kita
Kita akan bersama merajut cinta hingga ke Syurga-Nya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

My First Love

Ada perasaan-perasaan yang harus di undang
Karena dia seharusnya keluar
Sebelum terlambat
Aku tak ingin menyesal
I will make a date with you Papa
Seorang ayah selalu memiliki perasaan istimewa terhadap anak perempuannya
Dan malam ini aku ingin Etta baik2 saja.
Besok aku akan menelpon Etta
I miss you
Sehat-sehatki selalu
Ettaku, kusayangki....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Unhas, PTN-BH, MEA dan Karakter Bangsa


 c4beb0bb-d266-4784-9b54-b61b0f70bc0d

 Oleh A. Asrawaty

Unhas, Universitas Hasanuddin sebuah nama yang menyisakan banyak kenangan di memoriku, sebuah tempat di mana aku akhirnya menemukan jati diriku, memahami hakekat kehidupan, menyelami kedalaman ilmu dan bertemu dengan orang-orang hebat yang mengajarkan banyak hal yang tidak akan saya dapati di tempat lain. 

Kini unhas sedikit banyak telah mengalami perubahan bermetamorfosis dari startus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum (disingkat PTNBH) terhitung sejak tanggal 22 Juli 2015, Universitas Hasanuddin telah ditetapkan oleh Presiden RI melalui Peraturan Pemerintah  RI No. 53 Tahun 2015 tentang  Statuta Universitas Hasanuddin. PP 53 tersebut mengacu pada ketentuan Pasal 66 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Terlepas dari pro dan kontra yang ada, status ini merupakan sebuah tantangan yang dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan emas namun dapat pula menjadi bomerang sekaligus jika arah perubahannya tidak sesuai dengan fungsi sejatinya sebuah tempat menuntut ilmu[1].

Sebelum membahas lebih jauh tentang status baru Unhas sebagai PTNBH, ada baiknya jika kita kembali menelisik bagaimana sejatinya hakikat standar kualitas sebuah perguruan tinggi. Dalam menghadari persaingan di dunia pendidikan sebagai Word Class University. Sejatinya perguruan tinggi di Indonesia haruslah memiliki ciri khas yang sesuai dengan nilai historis dan budaya negeri ini, tidak begitu saja tergiur dengan istilah word class university dengan mengikuti semua langkah tanpa menelaah apakah tujuan tersebut sejalan dengan identitas historis, budaya dan agama bangsa kita. 

Saat ini indikaor sebagai perguruan tinggi kelas dunia adalah rasio kapasitas perminat baik lokal maupun manca negara, jumlah paper internasional yang dihasilkan, dan penyerapan dan persepsi di dunia kerja dan kualitas sarana dan prasarana pendidikan seperti jumlah dan kualitas dosen, perpustakaan, laboratorium serta sarana informasi dan akses internet. Sekilas, semua indikator tersebut menunjukkan keberhasilan sebuah perguruan tinggi ditentukan oleh kuantitas namun minim kualitas. Sejatinya, sebuah perguruan tinggi negeri tidak hanya berfungsi sebagai menara gading namun aplikasinya harus terasa di masyarakat. 

Oleh karena itu kualitas lulusan dan ilmu dari perguruan tinggi haruslah memiliki indikator yang berdaya guna terhadap masyarakat. Seorang ilmuan tidak hanya dituntut ilmunya, namun juga kekuatan karakter dan moral, semakin tinggi pendidikannya maka semakin tinggi pula intergritasnya terhadap keluarga, lingkungan, agama dan masyarakatnya. Indobesia dengan budaya timurnya yang begitu kental dengan pengaruh Islam harusnya dapat mengambil nilai-nilai yang sesuai dengan identitasnya dengan tidak hanya mementingkan kualitas keilmuan namun juga kapasitas keimanan, dengan begitu perguruan tinggi tidak hanya menjadi sebuah menara gading namun betul-betul menjadi mercusuar peradaban. 

Di samping itu bentuk dan rona pendidikan tinggi di era perdagangan bebas semakin perlu kita pahami bersama karena negara-negara akan diarahkan untuk menandatangani General Agreement on Trade in Services (GATS) yang mengatur liberalisasi perdagangan 12 sektor jasa, antara lain layanan kesehatan, teknologi informasi dan komunikasi, jasa akuntansi, pendidikan tinggi dan pendidikan selama hayat, serta jasa-jasa lainnya. Dengan kata lain pendidikan dikategorikan salah satu industri sektor tersier, karena kegiatan pokoknya adalah mentransformasi orang yang tidak berpengatahuan dan orang yang tidak punya ketrampilan menjadi orang  berpengatahuan dan berketrampilan [2].
 
Berbicara tentang perdagangan bebas, maka salah satu prinsipnya adalah komodifikasi, yaitu proses perdagangan yang berorientasi pada profit oriented, yang sangat tergantung pada kekuatan pasar. Payung kesepakatan GATS/WTO yang sudah diratifikasi tahun 1995 di Marakesh, telah membuat pendidikan menjadi suatu komoditas, sehingga dunia pendidikan tinggi di Indonesia tengah berada dalam arus pusaran kuat komodifikasi yang sekadar melayani pasar (baca: dunia usaha) [3]. Hal inilah yang menjadi kehkawatiran ketika pendidikan dijadikan sebagai komuditas perdagangan karena tentu saja hanya sebagian golongan saja yang nantinya dapat mengakses pendidikan yang lebih menakutkan adalah ketika pendidikan akhirnya terbuka untuk penanaman modal asing dan pemodal asing bisa saja ‘menjual’ ideologi, pandangan hidup (worldview), dan nilai-nilai (values) yang dianutnya, serta memasarkan standar moralnya melalui pengajaran. Hal ini dapat mengaburkan identitas yang hal utama dalam menentukan arah dan tujuan pendidikan dampaknya akan merusak  karakter dan nilai-nilai yang selama ini dianut bangsa ini. 

Namun kemudian, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita telah menjadi bagian dari masyarakat dunia yang mau tidak mau harus ikut terlibat langsung dalam sistem pendidikan dunia saat ini. Oleh karena itu pentingnya kembali menyadari arah dan tujuan pendidikan yang sesuai dengan karakter, identitas dan nilai-nilai luhur bangsa ini, agar tidak tergerus dan dapat bersaing di kancah internasional. 

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh perguruan tinggi saat ini adalah Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di mana. Perguruan tinggi harus mampu mencetak lulusan yang mampu bersaing di dunia kerja yang tidak lagi berhadapan dengan lulusan dalam negeri namun juga persaingan dengan pasar kerja ASEAN. Hal ini tentu saja merupakan sebuah tantang yang sangat besar bagi setiap perguruan tinggi. Oleh karenanya peningkatan kualitas perguruan tunggi yang ditentukan oleh faktor sumber daya manusia (SDM), infrastruktur serta sistem pendidikan yang harus ditunjang dengan sistem tata kelola perguruan tinggi. Hal inilah mungkin yang menjadi dasar sehingga unhas berbenah menjadi PTN-BH.

Dikutip dari situs alumniunhas.com hakikat PTN-BH adalah pemberian otonomi yang lebih luas kepada universitas. Otonomi terdiri atas otonomi akademik dan non akademik. Dengan otonomi di bidang akademik tersebut Unhas memiliki kewenangan mengubah kurikulum, membuka dan menutup program studi. Hal ini memungkinkan Unhas untuk terus menyesuaikan diri dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat.  Selanjutnya dibidang non akademik, Unhas dapat melalukan tatakelola sendiri baik manajemen, dan mengelola aset-aset yang dimilikinya dan membangun kemitraan dengan dunia usaha dan lembaga-lembaga lainnya [1].

Sekali lagi, terlepas dari pro dan kontra terhadap PTNBH, pada akhirnya kita tidak bisa menafikan bahwa mau tidak mau kita harus mengikuti perkembangan pendidikan termasuk adanya otonomi tersebut. Penilis  yakin Unhas sebagai perguruan tinggi  yang memiliki visi sesuai dengan karakter dan nilai-nilai bangsa sebagai pusat unggulan dalam pengembangan insani, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya berbasis Benua Maritim Indonesia (BMI). Serta misi Unhas untuk : [a] menyediakan lingkungan belajar  yang berkualitas untuk mengembangkan kapasitas pembelajar yang adaptif-kreatif; [b] melestarikan, mengembangkan, menemukan, dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya; [c] menerapkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya berbasis dan untuk kemaslahatan Benua Maritim Indonesia [1]. Dengan visi misi tersebut semoga kedepanya Unhas memiliki karakter pendidikan yang mampu bersaing di kancah internasional.

Dari hati, penulis sebagai alumni Unhas, dengan adanya kapasitas otonomi ini termasuk dalam hal akademik semoga para petinggi kampus dan penentu kebijakan betul-betul kembali pada nilai-nilai karakter ke-Unhasan bukan berdasarkan pada profit semata, tidak menutup atau membuka program studi hanya mengikuti permintaan pasar, namun melihat benar-benar terhadap tujuan dan peran program studi. Kedepannya, semoga dengan otonomi non akademik, hasil dari tata kelola menajemen hingga aset pendidikan diperutukkan untuk sebenar-benarnya pelaksanaan pendidikan dengan menekan biaya pendidikan dan meningkatkan jumlah penerima beasiswa, sehingga lebih banyak masyarakat yang dapat menjangkau dan menyelami ilmu pendidikan di Unhas. Penulis yakin jika Unhas benar-benar dapat mempertahankan identitas ke-Unhasan maka lulusan unhas akan mengalami peningkatan secara kualitas dan kuantitas untuk menghadapi MEA, tentu saja dengan kerja sama semua pihak terutama para civitas akademika unhas. Semoga. Selamat ulang tahun- Ke 60 Unhasku.


Penulis adalah alumni S1 unhas 2012, Mahasiswa Pasca Sarjana Unhas

[1]. http://alumniunhas.com/lomba-blog-60thnunhas-2016-berhadiah-total-rp-15-juta/
[2]. Sofyan Effendi, Menghadapi Liberalisasi Perguruan Tinggi, Harian Seputar Indonesia, 12-13 Maret 2007
[3] Edy Suandi Hamid, Komodifikasi Pendidikan, Republika, 22 Agustus, 2007

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Obvious Prose

Aku tahu sayang,
Di hari jadimu ini kau tidak menginginkan kado apapun dariku
Pun puisi romantis,
Selain cinta, kesetiaan, pengertian dan doa yang tulus

Maka aku tak menuliskan Kata romantis,
Hanya sebuah cerminan hati,

Terima kasih sayang, karena telah menjadi suami yang hebat.
Terima kasih karena sudah berusaha bekerja keras untuk masa depan kita.
Terima kasih untuk pengertian dan cinta yang terkadang malah kusalah pahami
Terima kasih karena selalu setia mendengar keluhanku bahkan ketika lelah menyerangmu
Terima kasih karena nasehatmu yang meneduhkan, bahkan ketika kantuk telah menyergapmu
Semoga Allah selalu menjaga hatimu, dan membuat waktu mengkristalkan segalanya.

Bukan lagi prosa romantis
Tapi aku juga akan menjadi istri berusaha mematuhimu, mengerti dirimu sayang. Menjadi Istri solehah yang akan mendampingimu, hingga kau menjadi Imam yang akan mengantarkan keluarga kita sehidup, sesurga (minjam istilah Fahd Pahdepie)

Aamiin.

Makassar, 07/04/2016
Hari ini hari jadimu dan aku tidak di sana, tapi hatiku selalu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Face Invasion

Always, my face will fly to you
Then invade your mind and heart
You will remember the sweetest even the hardest moment with me
And you will laugh, then love

Remember how curious you are, when I make a cake
However, you should hide the bizarre taste and your face when you in hurried to try the cake

Of course you keep smile even laugh, even I know you re acting right?
and we will feel just happy,

And that's the way of face invasion,

And just now your face appear more repeatedly, more and more

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Entah siapa yang menanti,
Kau ataukah aku
Tentang siapa yang berjuang
Kau ataukah aku

Ternyata kita

Dan kau telah membawaku ke sebuah tempat yang jauh
Aku hendak kembali
Namun bayang telah jauh Di sana
Kau mengantarku kembali, memungut kenangan

Jarak telah membelah
Antarkan aku kembali
Lalu kita akan melangkah lagi kembali

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rindu adalah Ramuan yang Membuat kita Makin Kokoh

Akhirnya kau berhasil membuatku menulis, Mer, sudah lama sebenarnya, hendak berbagi kabar. Di mana lagi perjumpaan yang lebih indah selain di dunia kata. Karena benar jarak telah membuat kita tak bisa menghabiskan waktu bersama, bahkan saat aku ataupun kau pergi, tak ada pertemuan perpisahan. Jika mengingatnya rasanya sekak, bukan? Yah, Sesungguhnya, banyak wajah yang ingin kujumpai, banyak kabar yang kunanti, banyak cerita yang ingin kudengar, juga banyak rumah yang ingin kukunjungi. Tapi sayang, terlalu banyak alasan yang akhirnya membuat itu hanya sebuah rencana untuk saat ini. Dan yah, tulisan menjadi sebuah mesin yang dapat mengubah rindu menjadi sebuah ramuan yang membuat hati makin kokoh.

Oh yah, hari ini tepat 6 bulan aku menikah dengannya, Ilhamku, Ilham dari Allah :). Banyak cerita yang ingin kubagi, atau anggap saja tulisan ini adalah doa agar kalian semakin termotivasi untuk segera menyempurnakan separuh dien.

Sungguh kau tidak usah menghawatirkanku lagi, aku bersama lelaki yang paling tepat di sisiku saat ini. Dalam enam bulan ini aku merasakan semua kisah -kisah romantis ala india, drama korea, ataupun novel-novel itu menjadi sebuah kenyataan (hehe lebay).  Ini beberapa potongan ceritanya.

Ada sebuah moment yang tidak bisa kulupakan saat perjalanan menuju Buol, tempat kediaman K Ilham, untuk pertama kali. Setelah melewati kota toli-toli yang sepanjang jalan adalah pesisir laut, sampailah kami di tempat peristirahatan yang berada di pantai. Tempat makannya beberapa buah gazebo sederhana, namun menjadi istimewa karena berhadapan langsung dengan laut. K Ilham segera turun dari mobil, lalu membuka kedua sandalnya, mengisyaratkan aku untuk memakainya ,aku memang sudah tak tahan hendak ke toilet, maklumlah kami sudah melakukan perjalanan semalamam. Dan jadilah K Ilham nyeker dan aku yang memakai sandalnya dan sukses menjadi pusat perhatian pengunjung lain karena kakiku yang kecil dengan ukuran 36, tenggelam dalam sandal K ilham yang berukuran 40. Aku berlalu saja, dengan hati berbunga-bunga karena teringat moment di sebuah postingan gambar di fb tentang seorang suami yang memilih nyeker di tengah guyuran dan genangan air kala hujan sambil memegangi sepatu highheels sang istri, Lalu, sang istri melenggang menggunakan sepatu sang suami... Oh, so sweet... Kamu pernah melihatnya bukan? Akhirnya aku mengalaminya, 

Ada saja moment-moment yang membuat semuanya menjadi slow motion. Suatu pagi aku ngambek, pokoknya lagi jengkel banget udah lupa sebabnya. Biasa, perempuan. Saat itu K Ilham sedang sibuk mengerjakan sesuatu di luar rumah, dan saya sendiri di dalam rumah menonton. Dan tiba-tiba aku melihat gantungan horden bergoyang-goyang, sofa yang kududuki juga bergoyang, juga dinding. Sempat aku berpikir bahwa K Ilham mungkin mengerjaiku agar bisa tertawa, soalnya saat aku ngambek dia pasti bertingkah lucu agar aku tersenyum. Dan bodoh, kukatakan pada diriku sendiri, memangnya K Ilham sekuat hercules dapat menggoncang-goncangkan rumah. Dan saat itu juga aku tersadar, sedang terjadi gempa. Maklum, ini pertama kali aku merasakan gempa, jadi agak telmi (telat mikir) hehe. Dan saat itu juga aku merasa panik, langsung loncat dari kursi menuju ke pintu. Tapi sebelum sampai di pintu aku bertabrakan denga k Ilham, melihatku ketakutan dia langsung merengkuhku. Dan saat itu aku lupa kalau aku sedang ngambek. Semua seakan menghilang, meleleh dan saat itu rasanya aku ingin gempa saja lagi, lebih lama (how crazy). Untungnya keinginan nyelenehku tidak terkabul, tergempanya hanya berlangsug beberapa menit, pergerakan lempeng bumi, katanya daerah Buol memang dilewati oleh lempeng. 

Yah, cukup itu yah, karena tidak semua kisah harus di bagi. Sungguh kau tidak usah khawatir, dia lelaki yang baik. Aku merasa bahagia berada di sisinya. Walau semua tentu saja tak melulu kisah manis. Tapi kami akan berjuang, untuk saling bersama dan bersetia. Dia aslinya pendiam, tak banyak bicara introvert. Tapi untuk beberapa hal dia selalu cerewet, apalagi menyangkut soal kesehatan dan keamananku, sampai rasanya pun ketika tidak sedang bersama suaranya mengiyang-ngiyang, kalau aku sedang batuk dia akan bilang, Yang, minum air hangat, kalau mau keluar kampus, Sayang, jangan lupa pakai jaket, kalau membersihkan jangan lupa pake masker. Dan banyak lagi. Dalam diamnya aku tahu, pikirannya telah menjaring laba-laba merencanakan masa depan kami. 

Doakan aku Mer, agar bisa segera wisuda dan menyusulnya dan juga agar Allah segera menitipkan malaikat kecil pada kami, untuk menemaniku jika Workaholic-nya lagi kambuh.

Aku sudah menuntaskan janjiku, aku menunggu tulisanmu dengan kisah berbeda, 
Aku juga sangat merindukanmu, kalian...
Sungguh, kini kita telah dipisahkan oleh jarak, tapi kita tetap menyatu pada sebuah tempat bernama "hati"
Berbahagialah karena Allah akan menghadiahkan pelangi pada saatnya, walaupun mungkin saat ini ada yang dilanda badai, 
Dan mari saling berjumpa pada doa yang dipanjatkan pada sujud-sujud kita

Makassar, 11 Maret 2016
  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Puisimu Untukku

Kau tak perlu menulis puisi yang menembus awan, karena pada akhirnya aku hanya dapat melihatnya dari jauh saja
Kau juga tidak perlu menulis namaku di atas pasir, karena dia akan terhapus kala air laut datang menerjang
Kau tak perlu menulis nama kita berudua pada batu, atau pada pohon, apa lagi pada situs sejarah, karena hanya akan merusak pemandangan dan aku akan marah
Tak perlu kau menggambar wajahku pada embun yang melekat pada kaca, karena itu akan menguap, lalu menghilang.
Tak usah pula kau mengabadikannya lewat lagu,
Karena
Semua yang kau lakukan sudah cukup memberitahuku, kau akan seperti itu selamanya bukan?
Sejak kau telah menyebut namaku lantang saat akad nikah kita
Dan saat itu kau telah mengkristalkan sebuah puisi di hatiku dengan ikatan yang paling kokoh.
Dan aku akan menanti kisah-kisah kita pada deretan cerita di hati

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS